Kutukan Tak Hanya Jatuh Pada Sisifus

Dua kata yang berbeda, tapi hampir memiliki persamaan. Dan saya tak berminat untuk menjabarkan atau memperdebatkan mengenainya. Dari kata-kata yang menjadi judul saya, kata itu terlontar begitu saja.

Mengenai Kata-kata tersebut terlontar saat saya berada di jalan raya waktu pagi hari dan pada jam kerja. Saat itu seperti sudah bukan menjadi hal yang aneh saat jalan raya padat, dan rasa anda juga telah mengetahui hal tersebut.

Saat Jalan itu terasa benar-benar padat, tapi saat mengetahui jalan raya yang padat kenapa masih juga membunyikan klakson. Dari klakson satu hingga saling bersahutan, dan Kendaraan roda dua menyelinap diantara roda empat.

Atau coba anda saat waktu dan pada jam yang sama anda sempatkan diri pergi ke stasiun, atau bagi anda yang pernah ke stasiun. lalu apa yang anda saksikan? Beberapa orang yang turun dari kerata , lalu mereka berjalan menaiki anak tangga untuk membeli tiket, dan setelah itu, mereka turun kembali untuk menanti kereta tiba. Terkadang ada juga mereka mempercepat langkahnya saat hendak beli tiket atau sesudahnya. Tak ada jeda untuk menikmati secangkir kopi yang terlewatkan kala di rumah.

Atas apa yang terjadi, apa yang membuat mereka membunyikan klason, berlari membeli tiket? Sepertinya waktu yang telah menanti seketika itu, berubah menjadi pemburu yang menakutkan dan terus mengejar meraka.

Karena jika sampai terlewatkan beberapa detik atau beberapa menit urasan bisa menjadi kacau, karena berbicara tentang waktu, waktu adalah uang, jadi menggunakan waktu sebisa mungkin agar bisa menjadi uang. Dan bagi mereka yang tak dapat menggunakan waktu maka akan bersiap untuk kehilangan uang. Dan memang dalam firman Tuhan juga berbicara mengenai kerugian atas penyian terhadap waktu.

Terlepas dari pepatah dan firman Tuhan, yakni bagaimana kehidupan yang mengejar oleh waktu, dengan selalu merasa diburu oleh waktu. Karena mungkin juga ketakutan manusia adalah menjadi mahluk yang rugi, sehingga kita wajib membunyikan klakson, atau berlari di tangga saat kita hendak membeli tiket.

Tanpa menyadari dengan kehidupan yang selalu saja berulang pada hari esok, esoknya lagi, dan esok Lalu seketika itu anda bertanya mengenai itu semua, dengan berujar ternyata hidup begitu menjemukan. Karena begitu menjemukannya dan klimaks dari itu semua apa yang akan dilakukan agar dapat keluar? Memilih bunuh diri, berlibur, dengan harapan dapat keluar dari beban yang dipikul.

Atas apa yang menimpa apakah anda mengelak dari bagian dari Sisifus, sebuah mitos yang berasal dari Yunani. Mengenai mitos tersebut telah dipaparkan oleh Arbert Camus dalam bukunya Mite Sisifus yang bercerita tentang mitos Yunani yang mengagap bahwa bukan batu yang menjadi beban atas kutukan tersebut, adapun kutukan tersebut berupa mengakat batu ke sebuah gunung lalu digulingkan kebawah, lalu ia menaiki gunung kembali dengan mengakat batu tersebut, dan kehidupan tersebut terus saja berulang kali. Atas apa yang terjadi pada Sisifus, Arbert mengukapkan bahwa beban yang dipukul bukan terletak pada beratnya batu yang diangkat melainkan kehidupan yang terus berulang-ulang.

NB:Ini hanya catatan yang tak jelas berbicara tentang apa, maka jangan dianggap serius

Panti Sosial, Solusi atau Eksploitasi

Apa yang anda lakukan saat melihat seorang anak kecil yang berumur kira-kira 4-10 tahun dengan tampang lugunya. Tentunya setiap orang mempunyai jawaban yang berbeda-beda, ada yang memberikan uang, mengucapkan maaf, bersikap acuh, atau memberikan bingkisan. Dan yang terakhir ini salah satu yang saya saksikan saat pengendara sepada motor berhenti kala lampu merah menyala di kawasan Fatmawati.

Mengenai hal tersebut, saya bukan hendak berkata tentang bingkisan apa yang diberikan terhadap anak jalanan (Anjal), tapi bagaimana sikap kepedulian kita terhadap mereka. Apakah dengan memberikan sesuatu merupakan bentuk kepedulian? Saya juga tak bermaksud untuk menyarankan anda untuk tidak memberikan sesuatu kepada Anjal tersebut, karena saya juga pernah merasakan sebagai seorang pengamen.

Lalu bagaimana dengan pemerintah, apakah pemerintah melakukan hal yang serupa dengan apa yang kita lakukan saat menyaksikan Anjal. Dengan hanya memberi selembar uang ribuan, acuh, atau memberikan bingkisan, atau mungkin juga tidak sebab meraka takut sangsi atas perlanggaran terhadap Peraturan Daerah (Perda) No 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum dan Strategi Pengembangan Ketertiban Umum, yang berisi tentang pelarangan anak jalanan dan memberi sedekah dilarang (bagi mereka di kawasan Jakarta), mengenai UU tersebut tak jelas sampai sekarang?

Dalam kepemerintahan merupakan sebuah lembaga yang tak bisa dilihat dari personal. Dan saya rasa pemerintah akan memberikan lebih dari pada saat kita bertemu dengan Anjal, terutama instasi yang mebidangi masalah sosial. Karena berbicara mengenai Anjal sudah merupakan tanggungjawab Pemerintah, sebagaimana yang tertera dalam Undang-Undang Dasar (UUD)1945 negara.

Dalam UUD 45 yang tertera pada pasal 34, mengatakan bahwa fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh Negara. Dari pasal tersebut terlihat bahwa sebuah amanat UUD terhadap sebuah pemerintah. Dan siapa saja yang masuk dalam katagori fakir miskin dan anak terlantar, jikalau Anjal merupakan bukan bagian dari fakir miskin dan anak terlantar lalu kenapa menggantungkan kepada belas iba terhadap orang-orang.

Jika pemerintah telah memberikan yang lebih, lalu seberapa besar peran pemerintah dalam bertanggungjawab terhadap Anjal tersebut? Kita bisa melihat dan menjawabnya sendiri apakah pemerintah benar-benar bertanggungjawab terhadap Anjal? Dan bagaimana solusi untuk Anjal sendiri, banyak orang yang beranggapan bahwa pendidikan merupakan sebuah solusi dan mereka bisa mendapatkannya di panti sosial.

Jika benar dengan memasukan mereka ke panti sosial merupakan sebuah bentuk dari tanggungjawab, dan juga solusinya. lantas kenapa masih banyak orang yang tak berminat untuk masuk ke panti sosial tersebut?

Terlalu banyak permasalahan yang dihadapi oleh Anjal, salah satu bentuk dari permasalahan yang mereka hadapi adalah eksploitasi. Mengenai eksploitasi bisa terjadi oleh siapapun hal ini termasuk saya, anda, keluarga, dan pemerintah itu sendiri. Dan saya juga bisa berkata bahwa saya tidak mengeksploitasi, termasuk anda, keluarga, begitupula dengan pemerintah.

Tapi, yang jelas siapa yang mengeksploitasi adalah orang yang mengambil kesempatan atau keuntungan dari keberadaan Anjal sendiri. untuk saya atau anda adalah yang memeras Anjal, keluarga adalah yang membiarkan atau menyuruh mereka, sedangkan pemerintah yang hanya menciptakan proyek dengan landasan untuk Anjal. Dan jangan-jangan kita sendiri yang telah menciptakan Anjal sendiri lalu membentuk lingkaran setan sehingga persolan Anjal sengaja kita ciptakan. Maka untuk kita yang telah membentuk lingkaran tersebut, kita beri nama Lembaga Pemaras Anjal (LPA). Dan mari kita merayakan dengan bersulang setelah kita buat LSM yang khusus untuk pemerasan Anjal.


Semoga saja kita semua tidak termasuk ke dalam bagian dari LPA, dan kita benar-benar memperhatikan Anjal, dan bentuk memperhatikan bisa banyak cara, salah satu cara adalah bagaimana kita melakukan pendekatan terhadap Anjal mengenai pendidikan, dengan pendekatan tersebut dapat merubah pola pandang terhadap pendidikan itu sendiri. Dan semoga saja benar bahwa pendidikan adalah hal dapat membantu merebuh ke tahap yang lebih baik.. Semoga saja, amin.

Silahkan, Ambil saja kok

Berbicara tentang peristiwa yang terjadi pada diri sendiri tak akan terlepas dari perasaan suka, duka, lucu, dan hal yang lain. Mengenai hal tersebut, setiap orang tentunya memiliki ceritanya masing-masing. Untuk hal itu saya bukan hendak untuk berbagi cerita tentang peristiwa yang terjadi, tapi semoga saja cerita yang akan saya paparkan dapat memberikan hikmah.

Mengenai peristiwa yang akan saya certiakan terjadi pada suatu pagi, tepatnya pada hari kapan saya sudah melupakan, tapi apa yang terjadi masih terekam dengan jelas.

Waktu itu, menunjukan pukul menunjukan pukul 08.00 bertepan dengan kemacetan yang sudah bukan menjadi rahasia umun tentang kota Jakarta. Saya bersama seorang perempuan yang menumpangi Bus Konwantas Bima bernomor 510 jurusan Kampung Rambutan-Ciputat, bagi mereka yang sering melihat atau memakai jasanya tentu sudah paham benar dengan kondisi di dalam Bus tersebut, terutama pada jam kerja. Dan untuk bus tersebut, mereka juga sering menyebutnya dengan sebutan 510.

Kami menaiki kendaraan tersebut dari daerah Pasar Rabu, setelah berapa lama berhenti akhirnya kendaraan itu melaju. Keadaan di dalam yang berdesakan penumpang terasa sukar untuk bergerak. Setiap orang yang berada di dalam memilih untuk mencari posisi yang enak walau hanya untuk berdiri.

Walau keadaanya begitu menyesakan, tapi kenapa penumpang masih mau untuk menerima jasa angkutan itu, mungkin salah satu alasannya, yakni cepat sampai pada tujuan. Hal itu juga yang menjadi alalasan kami, kenapa kami mau berdesakan.

510 melaju dengan kecepatan yang lumanyan kencang, dalam perjalanan tersebut secara tiba-tiba orang keberadaannya tepat di sampingku, yang terus saja merapatkan badannya, seakan hendak mencari posisi yang enak, sedangkan saya berusaha menahan posisi agar terjatuh dari desakanya.

Orang itu, berukuran badan lumanya cukup tinggi untuk ukaran orang Indonesia, penampilan juga rapih, dengan menggunakan sebuah kemeja langan panjang. Dari tampangnya yang cukup lumanya menunjukan orang tersebut seperti orang kantoran.

Pada awalnya saya kurang memperhatikan sosoknya, dan baru merasakan keberadaan tatkala saya merasakan ada sesuatu yang masuk ke dalam saku celana saya. Tangan itu seperti sudah begitu mahir benar. Mataku mulai menatap wajah dari pemilik tangan itu.

Dan saat tangan itu, masuk ke dalam saku saya, tepat ketika 510 hendak keluar dari Tol dan hendak sampai di terminal Lebak Bulus. Sambil berusaha mengingat apa saja yang ada dalam saku celana. Secara perlahan tangan saya bertindak untuk mengapit tangannya, sambil berguman silahkan saja ambil apa yang ada dalam saku celana, sambil membatin cuman ada uang seribu, doang, Saya juga naik bus ini diongkosin oleh orang yang naik bus bersama saya.

Kutatap wajahnya yang terlihat air yang keluar dari pori-pori kulitnya, lalu lenganya mengambil saputangan dari saku kemejanya, lalu ia mengelap keringat diwajahnya. Sambil menengok kanan dan kekiri secepat akhirnya ia keluar dari bus. Sedangkan saya hanya tertawa-tawa kecil atas apa yang telah terjadi, ternyata tampang yang rapih tak menjamin prilaku.

the one Gambaran dari Realitas

Saat menulis ini, untuk kedua kali saya menyaksikan aktor Jetli, siapa yang tak mengenal sosok Jetli, sesosok yang acapkali tampil menawan dengan kungfunya. Salah satu aksinya dapat dinikmati di salah satu film yang berjudul The one. Dalam film tersebut berkisah mengenai dalam pencapain terhadap yang terbaik dan hanya satu yang orang yang akan menjadi yang terbaik, agar mencapai yang terbaik, maka ia yang datang dari dunia lain datang ke pelanet yang lain melalui lubang waktu degan cara membunuh.

Kurang lebih begitu mengenai gambaran mengenai film yang berjudul “The One,” dan saya tak mahir dalam mengulas sebuah film atau menceritakan dalam bentuk tulisan.maka untuk itu saya bukan hendak meresensi atau mengulas secara detil mengenai film tersebut, tapi hanya ingin berceloteh apa yang ada dalam benak saya ketika menyaksikan film tersebut? apa yang ada dalam benak saya adalah mengenai dunia perlombaan, dunia pendidikan, dunia kekuasaan, dan sagala macam.

Mengenai perlombaan, bahwa dalam perlombaan hanya ada satu untuk meraih juara satu. Juara satu yang didapati merupakan hasil persaingan yang terjadi diantara yang lain. maka untuk mecapai setiap orang berlomba-lomba. Seperti perlombaan yang terjadi semenjak hendak menjadi anak kita juga telah melakukan perlombaan dalam kumpalan sperma, mengenyam pendidikanpun kita berlomba untuk mencapai hasil yang memuaskan, terutama dalam dunia kekuasaan.

Memang untuk menjadi yang terbaik merupaka hal yang wajar, tapi bagaimana cara untuk mendapatkan sesuatu yang terbaik tersebut? Mungkin untuk mendapatkan hal tersebut, seseorang akan lebih kejam dari pada sosok Yulaw yang diperankan oleh Jetli dalam film The one sutradara James Wong, hal tersebut bisa terjadi walau bukan dengan cara membunuh dengan kemampuan kungfu.

Apakah mungkin ada yang lebih kejam daripada sosok Yulaw karena hanya ingin menjadi satu-satu yang terbaik. Untuk jawaban bisa iya atau tidak bagaimana anda memandangnya? Dan peristiwa yang memelukan sebagaimana yang terlihat dalam persaingan untuk memperebutkan ketua dalam Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), saya apa yang terjadi dalam konggres PSSI tak perlu diperbincangkan, kerana anda tentu dapat melihat dan menilai sendiri, sebagaimana saya menilai dari kacamata saya.

Apa yang ada dalam penilain saya terhadap apa yang terjadi terhadap tubuh PSSI, walau memang penilaian ini terasa kurang pantas, dan dengan mempertanyakan kenapa apakah sebuah film The One sebuah gambaran dari realitas itu sendiri, bagaiman sesorang bertarung dengan segala macam cara bahkan tak jarang membawa-bawa atas nama bangsa Indonesia hanya untuk mencapai kekuasaan. Mungkin ini apa yang dikatakan oleh Niccolò Machiavelli (3 May 1469 – 21 June 1527, ia merupakan seorang filosof berkebangsaan Italy, dengan ungkapan yang cukup menyentak, yakni segala cara akan dilakukan untuk mencapai kekuasaan.

Apa yang dikatakan filosof Italy tersebut bisa saja menjelma dalam diri saya, anda, atau kita semua hanya untuk mencapai yang terbaik, yang tak sungkan untuk melakukan cara apapun dengan melepaskan perihal etika, mungkin juga dalam pertarungan untuk perebutkan kekuasaan pada dasarnya tak ada etika tata cara pertarungan, mungkin juga lebih pantasnya kita adalah orang-orang babar yang merasa malu untuk menyebut bahwa kita adalah suku babar. Tapi, semoga saja kita masih memiliki moral.


terjadi dalam mencapai kekuasan ternyata tak sungkan untuk gunu menentukan siapa yang pantas bahwa dia memang yang layak untuk menjadi pemimpin diantara yang lainnya, berbagai cara dilakukan
Apakah anda pernah menjadi yang terbaik diantara yang lain, bagaimana anda dapat mewujudkan untuk menjadi yang terbaik.
Apakah bentuk ini adalah bentuk dari

Hilangnya Nilai Sosial

Awal mulanya mereka cuma bertiga, lalu saya datang sambil membawa segelas kopi hitam, dan sebatang rokok yang sedang kunikmati. Salah satu dari mereka mempersilahkan saya untuk duduk, sambil berujar “Mo, geser.” Dan pada akhirnya saya duduk berjejer dengan orang yang menggeserkan posisinya. Tepat di hadapan saya duduk seorang perempuan, yang tak kukenal sama sekali. Dan tepat saat mata melirik agak serong ke kiri terdapat seorang yang tadi berseru pada temannya untuk bergeser.

Akhirnya kami duduk berempat, lalu secara tiba-tiba datang seorang dengan tampang mengerut, dengan diikuti ujarannya, untuk meminta seorang perempuan bergeser. Akhirnya ia duduk di samping perempuan tersebut. Tempat yang menjadi tempat duduk, berupa bangku yang biasa ada di bus kota, dengan kapasitas muat berjumlah dua orang. Sedangkan bangku yang saya duduki, berupa bangku lebih panjang daripadanya.

Orang yang baru saja datang, secara tiba-tiba berujar mengenai uang, sambil menceritakan perihal kegilasahanya, apa yang menjadi kegelisahannya? Saya tak bermaksud mencertikaannya, tapi yang jelas ia gelisah karena uang, sehingga membuat tali persahabatan menjadi renggang.

Baru saja beberapa detik terlewatkan, ia pun memutuskan untuk pergi. Seusai ia pergi, teman yang meminta temannya untuk bergeser “seandainya tempat ini, dijadikan kontrakan, enak banget.” Lalu ia mengerakan tangan dengan berujar “1,2,3,” seakan ingin menebak beberapa petak yang dapat dibangun di atas lahan tersebut.

Memang tanah tersebut cukup luas, dan dapat dijadikan beberapa kamar, memotong ucapanya ungkap orang yang berada di samping saya, dan saya menambahkan, enak, setiap awal bulan maka dapat mengipas-ngipas hasil yang diperoleh dari meminta anak kost, dengan hidangan secangkir kopi dan rokok.

“Tapi, kasihan pada anak-anak tak ada tempat untuk bemain,” ungkapku secara tiba-tiba. Tempat bermain membawa pada sebuah ingatanku pada beberapa tahun yang lalu, mengenai sebuah tanah lapang. tempat tersebut sering digunakan untuk segala macam permainan, ada yang bermain bola, layangan, kejar-kejaran.

Tiba-tiba dalam satu minggu seketika itu pula, semuanya telah berubah, awalnya hanya ada papan yang ditancapkan dengan “bertuliskan tanah ini milik........” setelah itu dibuat pagar untuk membatasi tanah miliknya. Tak lama tanah lapang itu, terbagi menjadi tiga petak.

Di antara ketiga petak tersebut hanya satu petak yang masih dapat dijadikan tempat permainan, karena kedua petak tersebut telah berubah fungsi menjadi kontrakkan. Mereka yang bermian bola penuh dengan perasaan cemas, takut jika bola mengenai kaca jendela, atau pakaian yang sedang dijemur, karena tanah lapang yang berukuran lima kali tujuh meter tepat berada di depan salah satu rumah.

Karena merasa kesal atas apa yang terjadi pada rumahnya, maka pemilik rumah menjadikan tanah lapang tersebut ditanami oleh beberapa tanaman. Dan akhirnya keberadaan tempat tersebut, sudah tak terdengar lagi tangis, senyum, atau sorak kegimabaraan saat mereka dapat melesatkan bola jaring. lalu sang anak akan berteriak-teriak sambil menganyunkan kedua tangannya ala pesebak bola dunia.

Ternyata tak hanya membuat gelisah, ternyata uang juga dapat menghilangkan senyum, tangis, kegirangan yang meledak. Dan pada akhirnya anak memilih untuk bermian dengan alat teknologi yang membuat mereka tak menemukan tempat untuk bersosialisasi.

Untuk Apa Menulis?

Pram pernah berkata, kurang lebih ia menuturkan bahwa menulis adalah untuk keabadiaan, dengan menulis kita bisa tetap hidup. Dalam hal ini bisa dicontohkan oleh berberapa pengarang dengan karangan tersebut yang pada akhirnya kita mengenal sosok pengarang tersebut, meskipun sosoknya telah lama meninggal.

Terlepas dari itu semua, ada hal yang mengelitik dalam benak saya, hal ini terjadi tatkala saya mengunjungi sebuah blog seseorang. Tapi sayang dalam hal ini saya melupakan nama pemilik blog tersebut. Dalam tulisannya, ia berbicara untuk apa menulis dan buat siapa menulis?

Dari situ, saya terus saja mencoba mencari jawabannya, dan dari jawaban saya mungkin akan berbeda dengan jawaban kalian, dan jika ada perbendaan, kiranya tak perlu diperdebatkan? Jika lahirnya sebuah tulisan karena berkehendak akan keberadaan kita, dan dalam bahasa lain bahwa menulis adalah bentuk dari eksistensi, atau hanya ingin agar kita dianggap bahwa kita adalah penulis.

Mengenai hal Itu semua, dikembalikan kepada penulis itu sendiri dan terserah apa yang ingin dicapai. Tapi, setidaknya bahwa kata penulis adalah berkaitan erat dengan tulisan. Sesorang akan dianggap, bahwa dia adalah penulis jika ada yang tulisan. Seberapa produktif penulis tersebut, hanya orang lain yang bisa menilai.

Terlepas dari apa yang menjadi tujuan dari penulis itu sendiri. Dan pertanyaan selanjutnya yang memenuhui benak saya adalah buat siapa kita menulis? Jika tulisan hanya untuk pribadi, maka biarkanlah tulisan tersebut hanya dinikmati sendiri, lalu untuk apa dipublikasikan? Dan saya beranggapan bahwa jawaban tersebut kurang tepat. Seperti halnya novel dari catatan pribadi, apakah hanya untuk berbagi pengalaman dari suka maupun duka?

Dalam dunia tulisan tentunya terdapat pesan yang hendak disampaikan, sebagaimana ungkapan yang diucapakan melalui bahasa lisan, atau juga sebuah pementasan dalam bentuk teater. Dan dari semuanya mempunyai masing-masing tujuan, baik disadari ataupun tanpa disadari. Dan dari sini kita akan melihat sang pembawa pesan, seperti halnya aktor dalam dunia teater, penulis dalam dunia tulisan.

Lantas pesan apa yang hendak ingin disampaikan? Kita mangambil salah satu contohnya adalah penulisan itu sendiri, apabila tulisan tersebut hanya sebagai hiburan berupa lawakan, maka hanya sebatas hiburan, jika tulisan tersebut hanya sebatas pemberitahuan, maka pembaca akan mengatahui infomasi tersebut, dan yang lain-lain.

Dan persoalan pesan tersampaikan atau tidak, itu persoalan lain, dan jika persoalan pesan itu, tidak mampu menyampaikan kepada pembaca, itu urasan lain. yang pada akhirnya semua tergantung pada penulis itu sendiri, sebagaimana tingkat usahanya yang dijalankan agar pesan yang disampaikan melalui tulisan dapat tersampaikan kepada yang menerima pesan tersebut.

Terlepas dari itu semua, bahwa ini adalah catatan dari argumen pribadi, tentunya anda mempunyai penilaian tersendiri, yang jelas saya mengagap apapun bentuk dari tulisan tersebut tentunya mempunyai hikmah tersendiri, baik berupa hiburan, catatan pribadi, atupun yang lainnya.

Pawang Teroris

Jika di TV one ada Panji yang dapat menjinakan ular, dan di Indonesia terdapat Densus 88 yang sengaja diciptakan untuk dapat menjinakan teroris.

Dalam tanyangan Panji, kita dapat menyaksikan bagaimana ia mampu menjinakan ular berbisa, dengan bisa itu dapat dengan membunuh siapapun. Tapi, apa yang terjadi Panji dengan santainya dapat menangkas setiap semburan ular tersebut, dan hanya beberapa menit akhirnya ular pun dapat dijinakan.

Apakah yang dimiliki Panji sehingga dia dengan mudah menjinakan ular, apakah karena panji kebal? Sehingga ia tak takut untuk bersentuhan dengan bisa, jawabannya bisa iya atau tidak. Tapi, saya rasa itu bukanlah satu-satunya jawaban.

Mengenai masalah menjinakan ular, sepertinya ia mempunyai senjata yang digunakan untuk melumpuhkan sang ular. Adapun senjata tersebut, bukan berbentuk batu, kayu, ataupun senjata yang dapat melumpuhkan sang ular, melainkan dengan cermat, ia mempelajari tingkah laku ular tersebut, dengan memahami ular tersebut yang pada akhirnya merupakan senjata ampuh yang dimiliki Panji.

Terlepas dari senjata apa yang kita gunakan untuk membunuh ular, bagaimana seandainya ular itu kita alamatkan pada teroris dan Panji adalah Densus 88 yang diciptakan khusus untuk menjinakan teroris. Dan bukanya, saya hendak menyamakan antar ke duanya, tak ada niataan sedikitpun. Apalagi untuk membandingkan, hal tersebut, tentunya berbeda. Baik dilihat dari segela sisi pun akan tetap berbeda.

Untuk berbicara Densus 88, asal mulanya dibentuknya untuk menjinakan Teroris. Teroris yang selama ini telah membuat masyarakat merasa resah, takut, cemas, dan lain-lain. selain itu untuk menjalankan misinya, maka Densus dibekali, hal ini dikerena Teroris berbeda dengan ular yang hanya mempunyai “bisa,” sedangkan teroris memiliki otak dan juga persenjataan yang canggih. Maka segala persenjataan dipergunakan oleh Densus 88 untuk dapat menjinakan sang Teroris.

Tak hanya persenjataan yang lengkap, mereka juga berlatih secara khusus untuk mengatasi segala ancaman teror, termasuk teror bom, dan dalam tim tersebut juga terdapat penembak jitu. Ada satu hal yang merupakan Dan mereka juga telah diberi hak istemawa untuk menjalankan tugas yang mereka emban dalam menangani teroris.
Dalam tugas yang dilaksanakan, tak jarang didapati baku tembak yang terjadi, lalu imbas dari baku tembak berupa korban. Dan yang menjadi korban bisa siapa saja, seperti yang terdengar baru-baru ini, yakni tewasnya warga sipil. Atas tewasnya warga sipil tersebut, belum ada yang berani untuk bertanggungjawab.

Seperti ada yang terlewatkan, yakni bagaimana sang pawang adalah berfungsi untuk menjinakan, seperti halnya Panji yang tanpa senjata dapat menjinakan ular, dan saat ini yang kebetulan menjadi pawang dari teroris adalah Densus 88, memang teroris mempunyai otak yang menjadi pembeda antara keduanya kian jelas.

Adapun yang terlupakan, yakni masih banyak yang dapat dilakukan untuk mengatasi teroris, selain hanya dengan menggunakan senjata. Dan jika hanya senjata untuk mengatasi kekerasan, maka kekerasan dilawan dengan kekerasan, yang hanya memakan korban, dan saya kira bahwa ada bentuk lain yang perlu dilakukan, yakni pendekatan yang dilakukan oleh Densus 88 dalam menangani teroris tersebut. Dan tak hanya itu jika pemerintah serius untuk memberikan rasa aman, saya kira pemirintah sanggup untuk melakukan itu semua, mungkin saat ini pemerintah terlalu sibuk, sehingga belum kerja maksimal dalam menangani teroris.

Menganai mengatasi Teroris tersebut, terkadang terdapat pertanyaan yang menggelitik, apakah dari sekian banyaknya tenaga ahli, masa tak ada yang sanggup mengatasi Teroris, apakah benar sedang ada acara penjinakaan Teroris? Dan sudah seharusnya pemerintah membuka selebar-lebarnya mengenai dialog-dialog, seperti halnya dialaog antar agama, pendidikan mengenai perbedaan, lalu bagaimana pemerintah benar-benar dapat menciptakan kerukunan, dan yang paling penting bagaimana pemerintah serius dalam menangani masalah-masalah yang ada.

Jika landasanya adalah pancasila dengan kemajemukan yang ada, tentunya pemerintah lebih memahami apa yang harus dilakukan. Jangan hanya persoalan ideologi dan kekuasaan membuat, pertikaian terus berlanjut.

Wisata Sejarah

saptu malam, saya berusaha mengingat tanggal berapa, tapi belum juga otak ini menemukan kapan tanggal kami melakukan perjalanan. malam itu, kami memutuskan untuk jalan, dari jalan-jalan yang tak jelas akahirnya kami memutuskan untuk menuju sebuah bangunan tua, dan karena bangunan yang tua maka daerah itu dinamakan dengan kota tua.

Jarak yang kami tempuh memakan waktu sekitar 1,5 jam, pemberakatan yang dimulai dari Ciputat. Hal itu terasa lebih cepat dari biasanya, satu hal yang mungkin karena jalan raya sudah cukup lenggang dibandingkan dengan hari-hari lainnya. Selain perjalanan pada hari libur, hal ini juga disebababkan dengan pemberangkatan pada waktu sudah malam.

Sepanjang perjalanan kami dikagetkan dengan rombongan orang yang menaiki sepeda dengan kecepatan yang lumanya untuk ukuran mengendari sepeda. Mereka diperkiran melaju dengan kecepatan kurang lebih 50 KM/jam hal itu diketahui tatkala temanku yang mengendarai sepeda motor mengikuti dari samping.

Kami terus mengikuti mereka dari samping, lalu kami sempat tertinggal saat menerobos lampu merah. Lalu satu-satu dari mereka memasuki jalan cepat. Kira-kira 2 menit akhirnya lampu hijau menyala, “kejar mereka, saya ingin tahu sampai mana finisnya” ujarku
.
Sekitar setengah jam akhirnya kami menemukan mereka, mereka berkumpul di lingakaran Hotel Indonesia (HI), sebuah lingkaran yang di tengah-tengah lingkaran terdapat genangan air yang melingkar, dan di tengah-tengahnya berdiri patung perempuan dan laki-laki.

Jumlah sepeda yang berkumpul tak terhitung banyaknya, dari segala jenis sepeda terkumpul, mungkin mereka telah membentuk sebuah komunitas, dan berjanji untuk berkumpul.

Sejenak kami menghentikan kendaraan kami, sebelum kami memutuskan untuk melakukan perjalanan kembali. Dan akhirnya kami sampai juga pada tujuan, sebuah gedung bertuliskan Musium Mandiri yang berhadapan dengan pemberhentian Bus Way terakhir menyambut kedatangan kami, dan berlanjut dengan gedung-gedung yang telah rapuh termakan waktu.

Tak hanya gedung-gedung yang menyambut kedatangan kami, tapi terdapat beberapa orang, dan orang-orang tersebut semakin ramai saat kami mencari tempat untuk memakirkan sepada motor, karena setiap parkiran terasa penuh oleh kendaraan roda dua.
Dari beberapa orang yang berada ada yang sibuk bermain dengan kamera, dan sebagaian menampang di depan lensa kamera, ada juga yang menyewa sepeda dengan memakai asesoris zaman dahulu.

“Sudah jadi tempat hiburan” ungkap temanku, akhirnya saya hanya mengaguk. Entah apa yang membuat mereka datang kesini, adakah mereka mencoba menyelami mengenai sejarah, atau hanya sebatas mencari tempat hiburan? Mungkin mereka sama atas apa yang kurasakan, saya kesini karena sumpek dengan rutinitas yang menjemukan, oleh karena itu aku membutuhkan hiburan, mungkin setiap orang butuh untuk mendapatkan hiburan, ungkapku membatin.

Tak ada yang salah dengan ucapan temanku, karena ia menilai bahwa ini bukan tempat wisata, tapi ada kontemplasi untuk mengeng tragedi, dan gedung-gedung tersebut merupakan saksinya. Tapi, adakah salah dengan mereka.

Ini bukan salah dan benar, tapi bagaimana “kota tua” tetap akan selalu ada, dengan pengunjung yang datang setidaknya memahami sebuah sejarah. Dari ungkapan yang terus membatin akhirnya aku mengajak temanku untuk meninggalkan wisata sejarah ini, “mau kemana?” jawab temanku. “Sunda Kelapa” jawabku singkat.

Hembusan angin dengan membawa bau khas menyambut kedatangan kami, setelah kami memasuki sebuah gapura yang bertuliskan selamat datang. Suasana nampak sepi tak seramai di Kota Tua, nampak terlihat orang-orang memindahkan barang dari sebuah Truk besar ke Kapal pengakut barang. Meraka meminggul sambil melintasi sebilah jempatan yang dijadikan penghubunga antarnya. Jempatan yang berukuran hanya cukup satu orang, dan jempatan tersebut terdapat dua, dan satu untuk arah ke kapal dan satunya untuk kembali guna mengakut barang.

Akhirnya kami mencari sebuah warung yang berjualan kopi, malam semakin larut saat aku menghampiri seorang nenek penjual kopi, di sampingnya terdapat seorang laki-laki yang berumur sama.

Sambil menikmati secangkir kopi dan kepulan rokok, kami membisu, entah apa yang ada dibenak ia, mungkin ia juga berpikiran sama dengan saya.

Jangan Tanya Kenapa, Patuhi Saja Peraturannya

“Kenapa Bajaj dilarang lewat?”
“karena beroda tiga.”
“setiap orang tahu,Bajaj rodanya tiga, tapi kenapa dilarang lewat?”
Seorang polisi tak sanggup menjelaskan kenapa bajaj yang beroda tiga dilarang masuk.
Kurang begitulah percakapan yang terjadi antara Naga Bonar dengan seorang polisi lalu lintas. Bagi orang yang telah menyaksikan film Naga Bonar jadi 2, tentunya mengetahui dialog tersebut.

Dan untuk saat ini, saya bukan hendak berbicara mengenai film tersebut, tapi mencoba mencermati tentang dialog yang terjadi. Dan dari dialog tersebut nampak jelas polisi sebagai orang yang berkaitan dengan penegak peraturan tak mengetahui perihal landasan mendasar kenapa Bajaj dilarang untuk melintas, untungnya saja itu hanya sekedar film. coba jika orang tersebut merupakan seorang polisi sungguhan.

Tapi, setidaknya dapat memberikan gambaran ketidakpahman mengenai peraturan tersebut, dan jika ada yang melanggar siapa yang akan disalahkan? Kala berbicara mengenai peraturan tentunya ada sebab kenapa peraturan tersebut dibuat, dan tentunya perarturan diciptakan guna menciptkan kehidupan yang tertib. Dan memang untuk persoalan peraturan, harus ada. Dan saya kira semua orang mengenai perihal tersebut, akan berkata sepakat. Tapi, setidaknya bagaimana peraturan itu dibuat, sehingga dalam penerapan dapat berjalan antar semua pihak.

Tapi kenapa sebuah peraturan tak dapat diterapakan, selain persoalan apakah benar peraturan tersebut cukup masuk akal? Hal yang lain yang kiranya diperhatikan, yakni sebuah kesepakatan antara semua pihak.

Dan dalam hal ini, yang terkadang terasa janggal, karena peraturan diciptakan jarang sekali dilibatkan kedua pihak, seperti halnya dalam kehidupan pendidikan terkadang dengan mudahnya membuat sebuah peraturan A, B, atau C, dengan tanpa kedua pihak, dan tatkala salah satu pihak menayakan perihal perarutan tersebut, maka salah satu pihak hanya menyuruhnya untuk diam, atau kebingungan.

Tak hanya itu, dalam dunia pendidikan seakan mengagab siswa adalah objek dari pembuat peraturan sendiri, sehingga siswa dijadikan sebagai pelaksana yang penuh kebingungan dalam menjalankan setiap peraturan yang dibuat, seperti halnya standar Ujian Nasional (UN), BHP, BLU, dan yang lain-lain.

Lalu benarkan peraturan tersebut dibuat untuk kebaikan? Jika iya, kenapa siswa tak pernah terlibat agar memahami peraturan yang sedang dijalankan? Jikalau ada yang bertanya, atau sekedar mengkritisi dari peraturan yang dibuat, lantas apa jawaban yang akan terlontar? lantas kenapa dalam dunia pendidikan seringkali mengajarkan agar setiap siswa bertanya, tapi apakah setiap pertanyaan dapat direspon dengan bijak oleh sang pendidik, atau jangan-jangan dianggap kurang sopan.

Tapi sekiranya jika alangkah baik jika kita membuat peraturan tak sekedar peraturan yang membuat salah satu pihak merasakan dirugikan, tak hanya itu bagaimana peraturan dapat berjalan jika antara kedua pihak tak terjalin sebuah komunikasi yang baik, setidaknya sekedar merenung apakah sang pembuat kebijakan mengetahui kendala yang dihadapi siswanya.

Dengan demikian, Jika benar peraturan diciptakan untuk memanusiakan manusia, tentunya peraturan dibuat bukan untuk menjadikan sebuah ancaman, melainkan bagaimana peraturan tersebut dapat lebih bersifat humaniora. Dan kita memang bukan hidup pada suku Barbar.

Dan peratanyaan yang paling mendasar adalah bagaimana sebuah peraturan dibuat? Dan apakah dalam menjalankan peraturan tersebut setiap pihak mengetahuinya? Karena siswa, masyarak tidak buta dengan peraturan tersebut, sehingga dalam penerapan semua pihak mengetahui kinerja masing-masing. Paling tidak apa yang terjadi dalam film Naga Bonar mengenai yang mengatur, dan yang diatar tak mengetahui kenapa peraturan dibuat, biarlah itu hanya ada dalam film.

Dan selain mengenai peraturan dibuat, setidaknya dalam pembuat peraturan tidaklah mengagap bahwa siswa bukan objek, begitupula masyarakat hanya mengikuti peraturan itu saja sudah cukup. maka jangan tanya, ikuti saja peraturannya.

Sayang, Doraemon tak ada

“Aku ingin begini, aku ingin begitu. Ingin itu, ingin ini, banyak sekali. Semua-semua dapat dikabulkan, dapatkan dikabulkan,.............................”

Siapa yang tak ingin, jika segala apa yang diharapakan akan dapat tercapainya, cukup dengan meminta lalu apa yang kita harapan akan datang dengan begitu mudah, sepertia apa yang menimpa pada sosok Nobita dengan tangisnya, lalu Doraemon yang dapat mengabulkan segala permintaan sahabatnya. Tak ada yang banyak dilakukan Doraemon untuk mengabulkan permintaan, ia hanya dengan mamusakan lengannya pada kantung ajaib.

Keinginan yang banyak sebagaiamana yang tertera pada kutipan diatas diambil dari nyanyian lagu kartun Doraemon seperti mewakili sisi manusia, entah itu saya, anda, atau kita semua yang terkadang terlalu berharap banyak dan tanpa bekerja keras.

Berbeda halnya dengan sepenggal lirik yang dinyanyikan oleh Iwan Fals, dengan pengelan lirik “keingainan adalah sumber penderitaan,...................”
Kenapa keinginan menjadi sebuah penderitaan, jawabnya tentu ada dalam diri saya, anda, atau kita semua. Jika ada yang mampu untuk mendapatkannya dengan mudah mungkin lagu Doraemon sebagai jawaban cocok, dan sebaliknya, maka bahwa lagu Iwan Fals terasa lebih cocok.

Berbicara mengenai keinginan tersebut? Ada kiranya menjadi bahan pertanyaan, dan untuk saat ini saya bukan hendak berbicara antara keinginan dan kebutuhan, bisa juga iya. Tapi, yang hendak lebih saya bicarakan merupakan sebuah proses untuk mendapatkan keinginan tersebut, hanya cukup dengan memiliki sesuatu.

Tulisan ini memang merupakan sebuah keluhan pribadi dan jika mewakili perasaan anda, itu hanya kebetulan. Dalam sebuah harapan acapkali terdengar bahwa tak perlu proses yang lama untuk mendapatkannya (instan), hal itu tersebut juga yang diharapakan oleh saya, seperti sedang berkhayal mendapatkan durian jatuh.

Mengenai keinginan yang tanpa melalui tahap-tahap yang melelahkan benarkah ada? Dan dalam hal ini bukan tolak ukur untuk membeli sebuah produk. Tapi, bagaimana sebuah produk yang berhasil dimiliki dapat menciptakan sesuai yang kita inginkan, seperti halnya sebuah iklan yang kurang lebih berkata, “hanya dengan....... dalam 30 hari kulit anda akan berubah putih,” “ada juga hanya dengan uang sekian, tubuh anda akan menjadi langsing”. Semoga saja itu benar adanya.

Tapi, jika hal tersebut tak dapat memberikan sebuah jawaban atas apa yang kita harapkan, maka apa yang akan terjadi? Sebagaimana yang pernah menimpa saya dengan berpikir , jika membeli suatu produk maka maka saya akan mendapatkan tubuh yang ideal, atau bla...bla.....

Memang dalam dunia ideal memang memberikan subuah harapan untuk mendapatkannya, tapi sekali lagi itu hanya dunia imjinasi yang hadir, karena perasaan atas kekurangan yang dimiliki. Dari kekurangan tersebut sekaan dapat terpenuhi dengan sebuah produk yang kita miliki, dengan begitu betapa mudahnya hanya dengan hanya membeli sebuah produk.

Dan mungkin saatnya saya berpikir yang real,lalu mengakui bahwa tokoh kartun Doraemon hanya sebuah tokoh fiktif, lalu berujar, sayang, Doraemon tak ada. Dan seandainya ada tentunya dia akan dengan mudahnya memberikan sesuatu atas harapan yang menjadi ideal bagi saya. Dan saya tinggal menikmati saja pemberiaan, tanpa melalui proses yang melelahkan.

Takut munculkan Teroris

Entah apa penyebabnya yang membuat kata teroris menguak kembali kepermukaan. Setelah sebelumnya terasa hilang begitu saja. Mengenai kata teroris sendiri jika kata teroris dibuang is akan menghasilkan teror (ancaman), mengenai teror itu sendiri dapat dilakukan oleh hampir setiap orang, dari pendidik dengan yang didik, orang tua terhadap anak, teman terhadap teman, dan lainya. Dalam menteror sendiri bisa dalam bentuk tulisan, lisan atau hal-hal lain. Dari semuanya dapat kita ketemui dalam kehidupan sehari-hari disadari ataupun tanpa disadari.

Lalu untuk apa seseorang yang melakukan teror terhadap orang atau melakukan untuk menjatuhkan mental sesorang . Salah satu alasan yang sering diucapkan ialah untuk memberikan penyadaran seperti halnya yang dilakukan oleh orang tua terhadap anak.

Selanjutnya jika kata teror dihadirkan is akan menjadi teroris menurut data yang diambil dari http://id.wikipedia adalah serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan membangkitkan perasaan teror terhadap sekelompok masyarakat.

Apakah tujuan dari teror yang dilakukan sekelompok teroris sama dengan teror yang dilakukan orang tua? Bisa saja jawaban iya, hal ini dilakukan untuk memberikan pelajaran. Hal lain yang menjadi pertanyaan kenapa ada teroris, dan dari mana teroris muncul? Setidaknya hal yang menghadirkan pertanyaan? Tak hanya itu, kenapa kata teroris selalu berkaitan dengan Islam? Sebelum mencari penyelesaian dari masalah tersebut. Marilah melihat pada teori hukum kausalitas (sebab akibat) menghadirkan sebuah bentuk ada sebab maka ada akibat, meskipun terori tersebut masih munculkan perdebatan.

Dan jika ditarik mengenai teroris dalam hukum kausalitas akan menimbulkan pertanyaan karena ada sesuatu maka muncul teroris itu sendiri. Maka untuk melihat penyebab munculnya teroris itu sendiri atau asal mulanya kehadirannya. Maka akan nampak sebuah sejarah kelahiran dari teroris itu sendiri.

Dalam sejarah Indonesia selepas kemerdekan akan memunculkan beberapa tiga pandangan tersebesar, yakni komunis, Islam, dan Nasionalis. Ketiga pandangan tersebut hendak meramaikan guna mengisi kemerdekaan Indonesia. Dari ketiga hal tersebut, pernah juga dirumuskan dalam pemikiran Presiden pertama Indonesia dengan sebuah konsep untuk menggabungkan ketiganya dengan sebutan NASAKOM. Apakah cukup berhasil untuk menggabungkan ketiga element tersebut, tulisan ini bukan hendak berbicara teori NASAKOM tersebut.

Berbicara mengenai Komunis, Islam, dan Nasionalis dengan tokohnya masing-masing berusaha hendak membawa bagaimana paham Indonesia ke depan. Dari ketiga sangat mungkin untuk dipecah belah oleh pihak-pihak tertentu. Lalu apakah praktik pemecah belah masih berlanjut?
Dan untuk menjawab bukan sekedar ada atau tidak, tapi menelisik mengenai kata pemecah belah, dan saat pemecah-belah telah terjadi maka akan terdapat sesorang (sekelompok) yang merasa dirugikan, kerugiaan pun dapat terjadi dari kebijakan sang pembuat kebijakan. Maka ketika ada yang merasakan dirugikan, maka akan muncul sebuah reaksi agar dapat menuntut keadilan.

Dan tak hanya tuntutan berupa keadilan, yakni bagaimana perasan kerugianpun tak terjadi kembali. Maka salah satu jalan memberikan sebuah tawaran agar kerugian tak terjadi kembali. Dari kerugian tersebut menjadi sebuah ancaman yang harus dihilangkan, dan tawaran tersebut merupakan sebuah perjuangan yang harus dicapai.

Kedua hal ini yang menjadi sebuah perjuangan yang hendak dilakukan oleh seseroang (sekolompok) Terlepas dari tawaran itu sendiri, yang hendak dibahas dulu berupa penuntutan akan keadilan. Dalam menuntut keadilan yang hendak ingin dicapai, dan dari sebuah reaksi tersebut dapat menciptakan perlawanan dengan sikap ekstrim. dan hal ini terjadi disebab dengan memunculkanya banyangan-banyangan jika sebuah traumatik terhadap peristiwa yang merugikan terhadap suatu individu (kelompok) jika semakin ditindas.

Dengan banyangan-banyangan tersebut menjadikan sebuah ketakutan akan yang yang dianggap penindas. Dan ketakutan semakin dapat berubah menjadi kebencian, kala kebencian semakin memuncak maka dengan mudahnya diperdaya dengan informasi, meskipun informasi yang didapati hanya kebohongan. Dapat dicontohkan, semisal seseorang atau sekolompok mendapatkan informasi sebuah ancaman akan diserang oleh sekolompok dari yang lain.

Atas informasi tersebut, lalu apa yang akan terjadi? Hal yang paling mungkin seseorang atau sekolompok akan secapat kilat membentuk benteng pertahanan atau menyerang sebelum diserang. Hal inilah yang terjadi pada Islam, Islam yang merasa diperlakukan dengan tak adil dan pada akhirnya mereka menuntut untuk mendapatkan keadilan.

Dari individu beragama Islam yang meresa terancam akan mencari teman yang merasakan hal serupa, sehinga individu tersebut membentuk suatu kelompok, dan dari kelompok tersebut akan membentuk sebuah perlawanan saat mendapatkan informasi. Dengan informasi tersebut yang akan menciptakan ketakutan-ketakutan. Dan sangat mungkin bahwa sebuah ketakutan tersebut sengaja diciptakan.

Lalu untuk apa diciptakan Ketakutan-ketakutan tersebut? Diciptakanya ketakutan agar terjadi konflik, dan pihak-pihak tertentu akan mendapatkan keuntungan atas konflik terjaidi. Lalu kenapa pemecah itu dilakukan, tak lain adalah persoalan kekuasaan.

Dan sangat mungkin bahwa ini hanyalah politik saja. Jika berbicara mengenai kekuasaan maka sangat mungkin ungkapan Macheveli dengan penuturannya yang kurang lebih apapun akan dilakukan hanya untuk mencapai kekuasaan, dan kekuasaan sangat berkaitan dengan politik.

Dan mengenai tawaran itu sendiri, apakah Negara Islam Indonesia dapat memberikan sebuah tawaran, tentunya ada yang akan mengagap inilah adalah iya sedangkan untuk yang lain tidak. tapi, yang jelas bahwa hal tersebut sangat mungkin untuk diadu domba dengan ketakutan-ketakutan berupa informasi palsu. Dan adapun informasi bisa berupa penyerangan salah satu orang (kelompok) terhadap orang (kelompok), dan dari informasi palsu itu sendiri mampu menciptkan ketakutan, maka atas ketakutan tersebut membentuk hal-hal yang ekstrim.

Dan tak ada yang diuntungkan dari konflik, selain orang yang mengadu domba. Dan yang paling bodoh adalah orang yang mau diadu domba, baik Islam dengan Islam itu sendiri. Jika pemerintah benar-benar berniat menyelesaikan rasa teror tentu dia memahami apa yang harus dilakukan. Apalagi jika benar teroris adalah terlahir dari kebijakan yang membuat orang (sekelompok) merasa dirugikan.

tulisan ini merupakan hasi dari seminar yang diadakan di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat dengan kemampuan keterbatasan penulis untuk menganalisa. Dan tulisan ini masih teramat jauh dari kata rapih, sistematis, kurang data atau apa saja, dan memang masih perlu diperbaikin.

Terlepas dari semua itu, semoga saja dapat memberikan informasi. Sehingga memberikan pemaham untuk kita semua.

Novel itu, Bukan Sastra

Apa yang membuat Novel Laskar Pelangi karya Andra Hirata bukanlah karya sastra menurut sebagaian banyak sastrawan, mereka mengagap itu hanya sebagai sastra populer, sastra hiburan ungkap Putu Wijaya di kediamannya, Kerta Mukti, Ciputat. Walaupun demikian, menurutnya itu masih merupakan karya sastra.

Karena Sastra sendiri, menurut laki-laki yang enggan melepas topi khas di hadapan orang lain, bahwa semua ekspresi dengan bahasa sebagai basisnya, semua bentuk ekpresi dengan basisnya bahasa itu merupakan sastra.

Meskipun demikian tak semuanya bagus, karya sasta yang bagus menurut pemimpin teater Mandiri adalah sebuah karya sastra yang dapat memberikan pengalaman batin kepada orang yang membacanya, lebih daripada itu juga, ia bisa mengubah orang macet menjadi ingin bekerja, yakni karya sastra yang bisa membuka unsur-unsur yang macet jadi terbuka, dan juga membuka pikiran kita.

Dan kala membacanya berulang kali, karya selalu berbunyi meskipun dibaca di waktu yang berbeda artinya satu kekayaan batin yang hidup yang meskipun sudah ditinggalkan oleh penulis. Karya itu berkembang dengan penafsiran yang baru sehingga sebuah karya sastra yang dibaca misal pada waktu kita 15 tahun dibaca lagi 45 maka karya sastra itu menjadi yang baru, dan tentunya berbeda dengan sastra yang hanya sekali makan, lalu sesudah itu mati. .

Penyebab, sebagaian sastrawan mengatakan novel itu, bukan karya sastra “terjadi karena tidak ada kritik, tidak tegaknya kritik yang bisa menjadi wasit, yang bisa memberikan suatu timbangan apa yang sebenarnya perkembangan sastra ini.” ketiadaan orang untuk menjadi kritik sastra, meskipun banyak terdapat orang yang bisa menjadi kritik yang bagus. Tapi, sekarang ketika kesenian telah menjadi industri, siapa yang mau menjadi kritik sastra? Mereka berkeinganan untuk menjadi penulis. Karena untuk menjadi kritik tak mendapatkan penghargaan, selain itu, terutama tidak mempunyai masa depan.

Tak hanya menimpa pada kritik sastra, kehidupan seni sendiri kurang diperhatikan. Hal ini, yang membuat hampir seluruh orang tua mengharapkan anaknya bukan bergelut dengan kesenian, melainkan Dokter atau hal-hal yang lain yang bisa membawa kepada kehidupan yang lumayan, Sebagaimana yang dirasakan oleh Putu, yang orang tuanya berkeinginan anaknya untuk kuliah di kedokteran agar menjadi Dokter, namun karena merasa lemah dalam bidang sains yang membuat memilih jalan hidupnya, dan setiap orang mempunyai bakat yang berbeda.

Obralan siang hari (15/9) berjalan santai, hujan yang mengguyur perkarangan rumahnya, membuat matahari tak menyengat dengan sangat. Laki-laki berasal dari Bali menambahkan, tidak ada kritik sastra membuat sastra kehilangan arah dan menjadikan golongan-golongan sastra, ada sastra untuk anak-anak, sastra untuk dewasa, sastra untuk agama, segmentasi sastra untuk wanita, pejabat, sastra yang kemudian direkayasa oleh penerbit yang mengatakan ini buku best seller, buku laris dan buku tidak laris, mereka tidak peduli buku itu bagus atau tidak semua telah dikacaukan.

Golongan-golongan itu, membuat sastra mempunyai identitas tertentu sehingga tak bisa dinikmati oleh banyak, hanya bisa dinikmati oleh sekolompok orang-orang tertentu, ini lah yang membuat penggemar Chair Anwar tak menyukainya.

Tak hanya itu, tak adanya kritik sastra yang menjadikan kubu lendir, Horison, hutan kayu. Dan menjadikan polemik antar kubu. Bahkan ada yang merasakan bahwa seni daerah tidak dihargai kerena Jakarta sudah mendominasi, ungkapan yang dilontarkan Arif Budiman berasal dari Salatiga, Jawa Tengah, dengan wacana yang digulirkan sastra kontekstual.

Ada pun, perhelatan akbar mengenai perdebatan sastra bermula dari polemik Barat dan Timur. Pertikaian yang berlangsung antara Sutan Takdir Alisabana sebagai perwakilan yang mengajak kita untuk lebih melihat Barat yang rasional dan Sanusi Pane sebagai wakil dari Timur.

Lalu berlanjut pada persolan pornografi hingga terbentuknya Undang-Undang pornografi dan tak kunjung untas. Tak hanya itu, konflik mengenai sastra yang berimbas beberapa orang masuk bui, dikarenakan kehendak menjadikan sastra untuk masyarakat atau pun sastra untuk seni. Sebenarnya perikaian ini dimulai di Perancis yang berkembang dengan kemunculan komunis dan memuncuk dengan adanya Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra).

Lekra yang berkehendak menjadikan seni untuk rakyat yang bertolak belakang dengan Manikebu yang mengagap sastra sebagai humanisme universal yang memandang bahwa tidak perlu seni itu untuk rakyat. Seni itu, tidak hanya untuk golongan-golongan tertentu, melainkan untuk semua orang

Kebebasan Atau Pembungkaman Seniman

Untuk judul, dua kata yang bertolak belakang ataupun dua hal yang saling berkaitan. Tanpa kebebasan tidak mungkin adanya pembungkaman. Entah tepat atau tidak untuk pemberian judul tersebut, jujur saja saat ini, tiba-tiba saja terbesit tentang sesuatu yang menganggu pikiran. Entah dari mana datangnya. Di sini saya bukanlah seseorang yang memahami apa itu sastra apalagi sebagai seorang kritikus sastra. Untuk bisa dikatakan sebagai seniman ataupun budayawan masih teramat jauh.

Kata kebebasan dapat terlontar dengan mudah. Namun, benarkah kebebasan tersebut telah dialami dalam setiap individu. Perjuangan akan nilai kebebas dari bergerombol, menyalurkan aspirasi, sampai dengan kepekaan realitas dan keliaran imajinasi selalu digaungkan. Setiap individu dituntut untuk menyampaikan apa yang ada dibenak. Jikalau ada sesuatu yang dibela tentunya terdapat penekanan, bisa dikatakan yaitu pembungkaman. ”kebebasan” inilah yang memunculkan perjalanan dari kisah Siti Nurbaya hingga kekinian dengan kondisi yang kian tak jelas.

Tentunya anda boleh menginyakan atau menolak, kalau saja penulis berbicara bahwa bangsa ini belumlah bebas. Walupun, mungkin saja,saat ini tak seperti tempo dulu (Siti Nurbaya) bagaimana yang menimpa kepada Pramudia Ananta Toer dimana perlarangan terhadap karyanya dan jua pembakaran, tak hanya itu hampir seluruh hidupnya dihabiskan dipenjara. Pram hanyalah sebagaian seniman yang dibungkam. Selain itu, masih banyak lagi seniman yang dikenal maupun tidak dikenal dan lenyap ditelah oleh kekuasaan.

Petarungan ideologi dapat memberangus kebebasan sastrawan. Dari perdebatan seputar seni untuk rakyat maupun seni untuk seni. Pertarungan pun telah memabawa politikus untuk turut aktif terlibat dalam ranah sastra. Dalam tubuh seniman sendiri, masih mengalami kebimbangan sekaligus mempertanyakan apakah salah jika sastrawan menulis sesuai dengan kehendak hati mereka? Tanpa pernah mempakemkan sastra harus seperti ini, itu atau yang lainnya.

Soedjatmoko dalam bukunya kebudayaan sosialis yang menyingung persoalan tentang kebebesan. Menurutnya bahwa kebebasan memiliki dua aspek yang berbeda, yaitu kebebasan sebagai proses dan kebebasan sebagai kesempatan.

Dalam kebebasan sebagai proses terdapat sesuatu yang akan dituju. perjalanan terciptanya imajinasi hingga terciptanya suatu karya. Penikmat sastra hingga kritikus sastra yang membicaraan perihal sastra merambat dari warung kopi (Warkop) sampai forum-forum diskusi. Dan tak ketinggalan para politikus turut aktif dalam perdebatan sastra yang berujung kepada Undang-undang. Seolah guna memerankan peran suci agar pembaca tak tersesat lalu mereka bersembunyi dibalik norma-norma dengan menanyakan dimana tanggung jawab seorang penulis.

Jika menilik ke pragraf sebelumnya apakah penulis bebas melempiaskan imajinasinya. Kiranya dicukupkan saja persoalan bagaiamana sastra seharusnya dan mau dibawa kemana? Pertarungan antara seni untuk rakyat dan seni untuk seni telah mengalimi metemorfosis dengan segala keruwetan dengan pengkotakakan-kotakan sastrawan hanya milik segelintir orang. Maka tak ada yang perlu disalahkan dalam hal ini. Sebagaimana menyalahkan pilihan sastra itu sendiri (yang berbicara tentang seksualitas) sampai terjebak kepada sastrawangi.

Masih mencoba menjabarkan tentang apa itu kebebasan, setelah tadi mencoba membahas tentang proses itu berlangsung dan terjadi sebuah karya. Lalu ingin ditekankan adalah persoalan kesempatan. Selain kesempatan kepada sang pemuas pembaca. Benarkah mereka diberikan ruang. Untuk hal ini sedikitnya ada kaintanya dengan perihal pasar. Kata ”pasar” yang diidentikan dengan pembeli.

Tentunya juga, memang tak perlu disangkal bahwa pasar merupakan penunjang dari seorang penulis itu sendiri. Tapi, jika pasar telah menjadi ajang bagaimana cara untuk memonopolinya dan tidak memberikan kesempatan kepada yang lain. Pasar dicokokin karena pasar merupakan objek yang menarik. Selera pasar kian hilang tampa adanya pilihan. Walaupun sedikit mempertanyakan kembali apakah masih banyak orang yang membaca sastra, mungkin juga sebagaian mengagap bahwa untuk apa memabaca tumpukan kertas hanya menghabiskan waktu.

Untuk berbicara pasar sendiri Pernah suatu ketika datang seseorang yang mengatakan, yang pada intinya setelah menulis mau apa? Dan aku bertanya kembali kepadanya, lalu ia menjawab setelah ia menulis lalu dijualnya. Jawabab yang terlontar begitu polos, seperti pedagang yang akan menawarkan barang dagangannya. Apakah benar hanya batasan itu, yang akhirnya semua terjebak bagaimana karya itu laku dipasaran dan nilai jual yang tinggi mendapatkan predikat bestseler.

Pilihan adalah kebebasan untuk memilih. Dan kebebasan kian dipertanyakan persoalan mengikuti selera pasar atau pasar yang telah diciptakan. Sampai ada yang menanyakan dimana atau sejauh mana kebebasan itu, sampai menyimpulkan bahwa tak ada kebebasan. Tentunya saja itu teserah kepada siapa yang mendefinisikan dan menilai tataran tentang kebebesan itu sendiri. Yang ingin ditekankan bahwa kebebesan mengenai dua perihal tersebut, apakah cukup ”bebas”. Meskipun perihal tersebut masih mempunyai makna lain apakah memberikan kebebasan bagi orang mencoba bergelut dengan sastra. Yang penulis namakan ruang. Raung yang mempersilahkan seorang untuk meluangkan idenya.

Hanya ingin mempertegas opini ria penulis dengan segala kelemahanya bahwa, ternyata akhirnya bukan saja dia(penguasa) yang telah membungkam ternyata dari sesama jenis karena mereka memaksakan untuk seperti ini, itu. Yang akhirnya mengakibatkan kesempatan terkikis. Bukan hanya waktu yang telah hilang ataupun jua karena tak lagi ada ruang.

Silahkan jawab sendiri dan biarkan semua apa adanya hingga penikmat sastra cukup dengan ngopi dan membiarkan lembaran-lembaran kertas hinggap sehingga waktu tak lagi terdengar tiap putaran detik. Atau benar pula, saatnya berbicara lebih esensi dalam sastra itu sendiri dinama nilai estetika dan biarkan itu menjadi makanan empuk para kritikus sastra bukan para politik sastrawan dengan ideologiyan, maupun jua oleh elit politik yang merasa perlu bertanggung jawab dalam norma.

Menyuapi, di Sela-sela Berjualan

Kamis (5/6) dini hari, kira-kira waktu telah menunjukan pukul 03.00 WIB, secara tiba-tiba terdengar ketukan pintu. Aku membukanya, dengan cepat ia berujar “ mana ibu?” Atas pertanyaan tersebut secepat kilat aku membangunkan seroang sehabat yang telah tertidur di sampingku.

Tak lama akhirnya keluar seorang perempuan dengan umur mencapai 39 tahun, dengan mata menahan ngantuk ia meninggalkan rumah ditemani serorang laki-laki. Laki-laki yang telah menemani hingga dikarunia empat orang anak, dan anak yang tertua sedang kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta semester 6.

Suara sepada motor terdengar lalu semakin lirih hingga tak terdengar. “ke pasar,” lalu di lanjutkan di “dekat stasiun Depok.” Jawanya sambil merebahkan kembali. Jarak yang ditempuh memang tak terlalu jauh dengan kediamannya.

“Berjualan sembako,” jawabnya agak malas. Rutinitas yang telah menjadi mata pencarian pasangan Tabrani terutama saat mereka merasakan tak ada pemasukan dari yang lain. Sebelumnya mereka masih bisa mengandalakan dari sewa kamar, tapi entah apa yang mengakibatkan orang-orang yang selama ini mendiami kamar yang berjumlah delapan kamar, dan satu sewa warung.

Hampir secara serempak mereka memutuskan untuk ke luar, tepatnya peristiwa itu terjadi saat penggusuran rumah dan entah untuk apa, yang jelas dari penggusuran tersebut telah terbangun jalan jalan yang terletak di samping stasiun Depok baru, dan tepatnya berada Jln Rahman Hakim, gang Kemuning 1 RT09/19.

Maka untuk saat ini tak ada yang bisa diharapkan selain berjualan, dari penghasilan sekitar dalam satunya mendapatkan uang sebesar Rp 2 juta, uang tersebut digunakan untuk biaya sehari-hari, pendidikan, dan hal-hal yang datang secara tiba-tiba seperti berobat, dan yang lain-lain.

Waktu telah menunjukan pukul 09.00 WIB pagi, ibu Komariah telah kembali dengan pakaian basah terguyur hujan, dan ia langsung bergegas masuk kedalam. Dari dalam terdengar suara minyak goreng panas beradu dengan air, seketika aroma bumbu menyerbak.

Media Buat Masyarakat Curiga

Seorang kakak sedikit membentak adiknya dengan ujaran “diajarin oleh siapa?” lalu sang adik dengan sikap yang polos menjawab “TV.” Sebuah jawaban yang cukup singkat, padat dan jelas.

Di lain waktu sebuah obrolan di warung kopi yang tanpa sengaja menyinggung mengenai “bom buku.” Dari beberapa opini yang tertera dalam obrolan malam itu, ada yang “mengukapkan pengalihan isu, dan juga sedikit analisis tentang bagaimana pandangan berupa teroris.” Kiranya tak salah juga jika mengukapkan dengan peralihan isu, bagaimana tidak sebuah media cukup sukses dengan berita seorang polisi yang secara tiba-tiba popelur hanya karena menyanyi India, lalu menutup yang lainnya.

Terlepas dari semua ini, dalam hal ini bukan hendak berbicara mengenai perahlian isu, dan bukan juga gambaran dialog yang terjadi antara adik dan kakak, atau mengenai “bom buku” itu sendiri, melainkan sedikit iseng-iseng berbicara perihal bagaimana sang adik yang kira-kira berumur 4 tahun dengan mudahnya mengutarkan kata-kata sehingga sang kakak merasa marah, dan kiranya tak hanya apa yang menimpa anak berumur 4 tahun, tapi hamper seluruh kalangan lalu bagaimana reaksi yang terbangun terhadap media tersebut.

Mungkin inilah salah satu alasan kenapa mengapa dilarang membaca koran, sebuah ungkapan yang ucapan yang kudapati kala membaca sebuah kata pengantar yang ditulis oleh Sindhunata pada sebuah buku berjudul bayang-bayang karya A. Sudiarja, terbitan Galang Press.

Dalam pengantar tersebut, menulisankan tentang di antara semua kebiasaan modern, salah satu yang buruk adalah membaca koran di pagai hari, kutipan yang diambil dari salah seorang penulis amerika yang bernama Isaac Singer yang sedang mengenang pesan ayahnya. Dan tak hanya dia, bahwa ungkapan yang serupa juga diungkapkan kembali oleh Susanna Tamoro dalam novelnya yang terkenal “va” Dove ti portail Cuore!” (ikutilah ke mana hatimu membawa)

Dia juga mengukapkan berupa alasan bahwa pada saat jiwa sesorang masih segar dan lebih terbuka, sudah mengalir padanya segala hal yang buruk yang dihasilkan dunia pada hari sebelumnya.

Jika melihat alasan apa yang telah diungkapkan. Dan melihat apa yang terjadi dari sebuah media berupa dialog sang adik dengan begitu polos mengikuti ungkapan yang ada dalam TV,dan obrolan di warung kopi dari berita bom.

Dari semuanya, saya secara iseng-iseng mencoba menganalisa tentang imbas dari media. Bagaimana seorang pemikiran sang adik begitu mudahnya mengikuti dan bagimana imbas dari berita bom.

Dari sebuah media yang akan memberikan ungkapan tersendiri sebagaimana dengan anak berumur 4 tahun, seperti halnya bom dan bukan bermaksud untuk menyamakannya, bahwa akan terdapat imbas itu sendiri, yakani yang terjadi dalam masyarakat yang penuh dengan kedamaian berubah menjadi penuh curiga saat masyarakat menerima bingkisan dari orang yang tak dikenal, ataupun juga memandang sinis terhadap orang yang tak dikenal. Memang tak ada yang salahnya dengan curiga tersebut, tapi seperti semua telah tertutup dengan ketakutan.

Seperti halnya salah satu contoh bagaimana stigma yang terbangun sehingga melarang seorang pemulung yang masuk di daerah komplek. Entah apa yang mengakibatkan perihal itu semua.

Lalu pada akhirnya masyarakat seperti dengan dibuat oleh rasa cemas, was-was, dan takut, sebagaimana perasaan itu terjadi ketika mendengar kabar mengenai sadisnya kota Jakarta, dan pada akhirnya memberikan rasa takut untuk menjajaki Jakarta.

Apakah dengan terbangunnya rasa curiga membuat media merasa behasil? Jika melihat dari tujuan dari media sendiri berupa sebagai alat kontrol pemerintah dengan sebuah berita yang menjadi hak publik, atau memposisikan sebagia pilar keempat dalam demokrasi.

Lantas apakah media telah menjalakan itu semua? Tapi, yang jelas bahwa orang yang berkerja di sebuah media merupakan penyampai pesan, pesan yang seperti apa? Dalam hal ini sering menjadi perdebatan. Semoga saja para media masih mampu mempertahan idealismenya terutama dalam pemberitaan, Cuma sekedar beraharap menciptakan opini publik atau sekedar membuat cemas

Mengenang, merenung, dan memperbaiki

Berbicara perihal yang tertera di atas sekilas akan terbesit pertanyaan mengenang siapa, apa yang direnungkan, dan apa juga harus diperbaiki. Tapi mudah-mudah saja dari ketiga kata itu tersebut yang kiranya menjadi kata kunci tepat, tanpa menagasikan hal-hal yang lainnya untuk mengenai Ki hajar Dewantara.


Tentangnya merupakan sosok yang melakukan perjuangan terhadap dunia pendidikan, sehingga melekat pada dirinya sebagai bapak pendidikan Acara mengenang sosok yang bernama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Seorang yang lahir dari keturunan ningrat menciptakan sebuah universitas berupa taman siswa bertujuan memberikan pendidikan bagi para kaum pribumi jelata. Bahwa pendidikan bukan saja hanya untuk orang-orang dari keturunan priyayi.


Sekilas demikian apa yang telah dilakukan. Maka atas apa yang diperjungkan melalui pendidikan sehingga menjadikannya sebagai bapak pendidikan. Seandai jika saja sosoknya tak ada apakah kita akan memperingati hari pendidikan? Hari pendidikan yang jatuh pada tanggal 2 Mei yang baru saja kita peringati.


Untuk peringatan, peringatan seperti apa dan apa yang diperingati mengenai 2 Mei, ataukah hanya sekadar bentuk penghargaan terhadap pahlawan pendidikan? Lalu bentuk dari mengenang dengan cara berkumpul dan berbicara seputar pendidikan. Dengan demikian bahwa kita merasa sebagai orang yang peduli terhadap pendidikan.


apakah hanya sebatas itu, secara pribadi hendak berpendapat bahwa dalam memperingati bukan hanya sekadar berkumpul layaknya menghadiri acara pesta, selepas pesta usai maka acara akan usai juga.Tapi, sejenak sedikit kontemplasi mengenai sebuah usaha bagaimana dunia pendidikan bukan hanya bagi orang golongan priyayi, melainkan bagaimana pendidikan dapat dinikmati oleh kaum jelata. Kata jelata sendiri, jika ditafsirkan secara asal berupa masyarakat yang hidup di bawah garis normal (masih miskin).


Dengan demikian ada sebuah nilai yang terlahir menimal berupa pertanyaan apakah pendidikan telah dirasakan oleh seluruh masyarakat terhadap hak yang sama mengenai pendidikan tanpa ada perbedaan.


lalu kenapa, tepatnya pada suatu ketika saya sedang berada bazar buku, tanpa disengaja melihat sebuah judul buku yang berjudul “orang miskin dilarang sekolah” sekilas kata judul itu sendiri memberikan pemahaman bahwa dunia pendidikan yang cukup mahal.

Sehingga dengan mahalnya pendidikan membuat ketidak mampu golongan orang untuk membelinya. Dengan demikian akan berimbas pada hanya masyarakat tertentu yang dapat membeli biaya pendidikan.

Kiranya, inilah yang menjadi Pekerjaan Rumah bersama bagaimana agar pendidikan dapat dinikmati oleh seluruh golongan dan juga dengan mutu yang sama. Dengan menciptakan momentum yang tidak hanya terjebak pada tanggal 2 Mei.



Jikalau benar-benar pemerintah memperhatikan tentunya akan nampak terlihat sikap, minimal seperti apa yang terjadi pada negara Jepang yang melihat dunia pendidikan begitu penting, dengan sikapnya ketika pertanyaan berapa guru yang masih hidup saat negara tersebut terkena bom dari sekutu.


Terutama lagi Indonesia dengan penuh percaya diri dan dengan sadar telah mencantumkan dalam Undang-Undang sebuah tujuan dari pendidikan berupa tertuang dalam Undang-Undang Nomor : 20 Tahun 2003 Bab II Pasal 3 yaitu : “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, sehat, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Lalu benarkah tujuan telah tercapai, jika tujuan itu belum juga tercapai bukankah telah terjadi kesalahan dalam pendidikan itu sendiri. Hal yang mungkin bagaimana martabat bangsa tersebut dapat tercapai jika biaya pendidikan masyarakat tak dapat menikmati.

Seandainya itu telah terlaksana dengan sendiri cita-cita akan tercapai.

Benarkah telah merdeka?

Sudah 65 tahun Indonesia terlepas dari penjajahan, semenjak memproklamasikan kemerdekaannya pada tahun 45. Dengan tegas sang proklamotor berbicara tentang penghapusan segala bentuk penjajahan.

Tentunya bagi siapapun sepakat dengan pengahpusannya dan hidup merdeka, namun bernakah penjajahan telah terhapus dan kita merasa merdeka?

Kata merdeka itu sendiri dalam kamus bahasa Indonesia berarti bebas (dr perhambaan, penjajahan, dsb); berdiri sendiri, tidak terkena atau lepas dari tuntutan, tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; leluasa.

Lalu bagaimana dengan seorang anak pertama dari empat saudara keluarga Tabrani, anak itu bernama Bambang Rizki Saputra berumur 20 tahun. Dalam kesehariannya ia bersikap seperti anak-anak sebaya, namun seketika semua berubah.

Perubahan itu terjadi semenjak peristiwa penggusuran yang terjadi pada tahun 2009. Penggusuran yang melanda berbarapa bangunan rumah warga yang berada di Depok samping stasiun Depok baru, tepatnya jalan Arif Rahman hamkim gang kemuning 1 RT 01/19 kampung lio Depok. Dari penggusuran yang tersisa kini tinggal 3 KK dari 44 KK, salah satu bangunan yang masih tersisa adalah keluarga saya.

Hal ini, lah yang membuat saya merasa cemas, terutama saat malam tiba. Cemas saja, jika rumah yang saya tempati dari nenek hingga sekarang secara tiba-tiba digusur tapat kala saya sedang tidur, atau tidak sedang berada di rumah. Pikiran itu terus saja merasuk dan mengusik pikiran, yang jelas saya merasa diteror.

Dan tak hanya itu, saya sebagai penduduk pribumi dengan tanah resmi juga merasa dirugikan dengan hilangnya pendapatan hasil dari uang sewa kosan berjumlah 8 pintu dengan biaya perbulan Rp 500.000 dan sebuah sewa warung dengan harga sewa Rp 1000.000, dari penghasilan itu digunakan untuk biaya pendidikan saya dan ketiga adik nantinya, untuk sat ini saya sendiri dan untuk saat ini saya masih terdaftar di Uneversitas UIN Jakarta, fakulatas ekonomi. Selain itu juga digunakan untuk keperluan yang datang secara tiba-tiba seperti kesehatan.
Kepana para penyewa itu pergi? saya pernah bertanya, tapi tak menemukan jawabanyan. Salah satu penyewa yang pernah saya tanyakan perihal keputusannya tentang kenapa pindah sewa warung, orang itu hanya berdiam. Mungkin mereka merasa takut.

Hilangnya pengasilan tersebut, kami menggantungkan satu-satu pengahasilan keluarga yakni, berjualan di pasar. Dari hasil yang didapat kami gunakan yang biasanya hanya untuk kehidupan sehari-hari dan sekarang digunakan juga untuk keperluaan yang lain.

Dan untuk saat ini, saya tak mengetahui apa yang harus kami lakukan, dan mau mengadu kesiapa? Tapi, yang jelas kami masih menolak dengan penggusuran ini. banyak hal yang membuat saya menolak untuk penggusuran ini salah satunya berupa tempat tinggal, kami akan kemana?

Lalu untuk alasan kenapa mereka yang telah merelakan rumahnya digusur, entahlah kenapa mereka merelakan tempat tinggalnya diratakan dengan tanah. Mungkin salah satu alasannya mereka takut dengan ancaman, apalagi mereka mempuanyai kekuasaan.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. vepiTouring... - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger