kisah Jempol

Kukuruyuuuuuuk. Suara itu, berulang kali. Disusul dengan yang lain. Kira-kira hitungan detik Adzan saling bersautan. Ada yang terbangun, ada yang menaikan kain sarung guna menutupi badan. Yang terbangun pergi ke mushola, dan ibu bapak pergi ke pasar. Ibu juga ada juga ada yang pergi ke dapur. Jalan pun melui dipadati oleh orang-orang.

Matahari mulai memancar, terlihat warna yang merah kekuningan. Bunyi kukuruyuk tak serame yang tadi. Tiba-tiba saja muncul orang yang menggunakan seragam dari Putih-merah, Putih-Biru, Putih-Abu-abu. Ada yang berjalan, ada yang duduk lalu menaiki mobil, ada yang pake sepeda.

Dan jalan pun terasa sepi, hanya sesekali kendaran melintas. Semua telah menuju tempatnya masing-masing. Dan yang terlihat orang-orang berbaris di depan ada yang siap menyanyikan Lagu Indonesia Raya. Ada dua orang berdiri di depan orang yang berbaris banyak. Ia memakai seragam batik dan di belakang agak ke kekanan berdiri sesorang juga yang dengan pakaian yang berbeda.

Tak lama terdengar aba-aba siap grak dari yang orang yang berdiri di depan ke dua orang tadi, membelakangi orang-orang yang berbaris banyak. Setelah salah satu dari ketiga orang yang berbaris dengan pakaian yang sama dengan orang yang berbaris banyak bersuara.

Ada orang yang bergerutu, ada yang mencoba menutupi panas dengan topi, ada yang lain-lain. lalau semua berhamburan menuju kelas-kelas masing. Jam membawa meraka beristirahat, jam juga membawa mereka memadati jalan. Ada yang jalan, ada yang nunggu kendaraan lewat, ada yang menggunakan sepada.

Makanan telah menyambut mereka di meja makan. Dan ucapan terdengar sampai ke telinga-telinga yang lain. satu orang berbicara, setelah mendengar lalu berbicara ke yang lain dan begitu seterusnya.

Dari ucapannya ada yang bercerta tentang peristiwa yang naas yang terjadi di pagi hari yang cerah. Seorang ibu berniat membeli sayur. Dia pergi dengan mengotel. Dan di tengah-tengah keramain tiba-tiba terdengar prak. Benturan besi dengan besi tak terelakan. Rangka sepeda detik itu juga tak jelas karena terbentur oleh kotak dengan ditopang oleh roda yang berukuran besar sampai berjumalah delapan. Di depan ada sepasang roda. Di belakan sepasang roda juga, dan yang paling belakan sepasang roda juga. Roda tersebut berada di setiap sisi dari kotak tersebut.

Perempuan itu mental, darah keluar dari tubuhnya. Lalu orang rame bergerumul melingkar perempuan itu. saat melihat ada yang bingung, ada yang menjerit, ada juga yang menangis. Lalu ia dibawa ke ruamah yang serba putih. Dan kabar terakhir darinya ia meninggal. Seperti di pasar ada yang manangis, ada yang diam, ada yang bingung, ada yang biasa.

Kekuruyuuuuuuk kembali tedengar, orang seperti kemarin. Dan diantara mereka mulai bercertia tentang peristiwa tabarakan tersebut. setiap cerita terbawa ke orang lain. meraka terdiam, kasihan. Ternyata sisa dari peristiwa tersebut meninggalkan perisitiwa yang besar.

Matahari berwarna kuning ke emasan, adzan magrib berbunyi. Jalan tak seperti biasanya. Mereka berdiam diri di kamar. Kamar terisi bapak, ibu dan anak-anak mereka menjadi satu. TV tak menyala, tak ada sinetron yang menami orang-orang ataupun Film yang bertarung.

Tiba terdengar suara yang menabarak kaca jendala. dan dibales dengan suara hos-hos. ada yang menutup kuping, ada yang menutup mata, ada yang ingin berteriak, ada juga yang lain.

Ayam tak terdengar berkukurunyuuuuuk. Orang tak serame kemarin. Sekarang mereka bercerita tentang perempuan yang mencari bagian dari tubuhnya, ada juga yang bercerta salah satu organ tubuhnya mencari tubuhnya. Mereka terdiam, merinding, ingin kemabali ke kamar.

Jam menunjukan 18.00 mushola telah berkurang orang. lalu kira-kira selapas orang sholat Isha mushola telah benar-benar sepi. Pos ronda juga sama. Tak ada orang yang di jalan. Warung-warung telah telah tutup. Yang terdengar suara jangkrik.
Saat pukul 06.30 ada yang bercerita saat mereka mau pergi tentang kedatangan kerumahnya. Ia bercerta tiba-tiba seperti ada orang yang mengetok pintu setelah dibuka ternyata ga ada orang. ketukan itu terus berulang kali. Dan orang-orang merinding, bersyukur tak mendengar suara ketukan langsung. Dan berdoa semoga tak mendengarnya.

Malam masih sepi, ada yang mengundang dukun untuk menjaga kampung, ada yang membawa kiai. Tapi mereka berlari, mereka bingung, mereka menyerah. Semua menjadi sunyi kembali. Mereka bingung bagaimana mengalahkannya. Para orang pinter menjadi seperti orang bodoh di depan setan tersebut.

Tiba-tiba terdengar suara yang sama kali ini di jendala kaca. Ia terus berulang kali. Dan secara tiba anak kecil menunjukan kelingking kepadanya dan dia pun pergi. Dengan ketawa “kamu jaga”

Ayam kembali berkukuruyuuuuk, mushola rame, orang berpegian ke pasar, dan ibu-ibu ada yang di dapur, bapak-bapak membawa cangkul. Mereka bercerita tentang pahlawan anak kecil yang mengalahkan setan tersebut. mereka bercertia tentan setan yang tak berdaya menghadapi anak kecil tersebut.

Akhir Kisah Buto

Tiba-tiba saja orang-orang mulai berdatangan dari adiknya ema, suaminya adiknya ema, dengan anaknya-ankanya. Dan kakanya emak juga berdatangan. Anak-anaknya bertemu dengan anak-anaknya emak.

Mereka bercerita, mereka tertawa, yang satu nangis membuat mereka tertawa riang। Aku melihat para bapak-bapak dari bapakku, kakanya dan adik-adiknya dengan suami-suami dari emak berkumpul dengan kopi dan rokok.

Di balik pintu kakakku berbaring di atas kasur masih dengan tatapan murung. Ia melihat mereka memakan, ia juga melihat dari satu orang hingga banyak orang mengejarnya. Hanya satu yang tak dia lihat, yaitu saat golok selesai diasah. Seperti orang-orang yang tertawa saat melihat orang menangis. Akupun juga demikian saat dia menangis.

Peristiwa itu masih ia lihat dalam baringnya, saat itu, ketika mereka dari entah mana saja berdatangan dengan membawa baskom yang berisikan beras dan ada juga yang membawa amplop yang setelah selesai barulah aku tau berisikan uang dari seribu, lima ribu, sepuluh ribu. Dan dari seseorang yang dekat dengan aku, kakakku, adikku, mamakku, orang yang selalu datang membawakan kami uang.

Lalu aku mencarinya dan temanku mencarinya, orang-orangpun ikut mencarinya. Mengejarnya, mengepungnya. Tak seperti biasanya, mungkin saja ia juga punya perasaan akhirnya ia lari dengan mengepakan sayapnya.

Saat pagi kami selalu mendengar dia berkukuruyuk menunjukan keperkasaanya. Semenjak kecil ia selalu dilatih untuk menjadi petarung. Saat itu aku, kakakku, temannya yang punya, juga berkumpul menyaksikan pertarungan yang membuat kakakku bangga.setelah selesai terkadang ia mengelapnya dengan kain yang basah, atau di waktu lain. saat menyisipkan waktu dalam hari. Saat dia memberikan makan untuknya, saat dia tidak berbuat apa-apa selaian dengan ayam.

Lalu ia memberikan nama, nama dari sebuah film. Film yang membuat dia memberikan kepada ayam jagoannya dengan sebuatan Boto.

Saat aku melihat ia meneggakan dada di depan para betina atau pun terkadang dia mengejar-mengejara para betina. Pernah aku melihatnya juga saat itu bulu-bulu sekitar lehernya berdiri dan potokan yang lancip hampir mirip rajawali lalu kakinya diangakat untuk mencakar lawannya. Dimulutnya kelihatan warna mereh. Hal itu dilakukan demi seorang betina.

Pagi-pagi benar aku melihat kakakku mengelus Buto, ia memandikan terlebih dulu sebelum dia memandikan dirinya atau sebelum dia menggunakan sepeda untuk mengotel kira-kira dua atau tiga kilo dari rumah kami.

Besok dia melakukan hal yang serupa dan esoknya juga sama sampai entah sampai beberebapa besok. Mungkin itu yang ia lihat di kasur itu. Dengan menggunakan kain sarung. Dengan kebingungannya, dengan tanpa daya.

Saat ia terpaksa menggantikan jelana dengan kain sarung. Untuk di rumah, sekolah ataupun saat dia berjalan-jalan. Waktu dimana bertepatan dengan gunting yang memotong pucuk dari kemaluaanya, saat itu juga sebilah golok menghunus di leher Boto. Tak ada lagi Boto yang berlari-lari mengejar betina. Tak ada lagi penguasa diatara jogo-jogo yang lain. Sang legenda berakhir di meja makan. Saat mereka telah menadapatkan bagian dari tubuh Boto.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. vepiTouring... - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger