Pahlawanku

Sholat tak kunjung selesai, pikiranku telah terganggu oleh acara filim kesayangan yang ditanyangkan salah satu stasiun RCTI. Iya itulah yang kami tau. Saat kami masuk sekolah, aku akan ikut aktif bercerta bagaiaman Satria Baja Hitam melawan musuh-musuhnya.

Selapas sholat ashar kami bersiap-siap untuk pulang. Setelah hampir satu jam kami diperkenalankan oleh huruf-huruf arab. Tiba-tiba saja hujan turun dengan amat derasnya. Satu-persatu terlihat murung, tidak seperti biasanya kala air mulai turun. Kami bisanya berkumpul di lapangan untuk berebutan bola dan setelah mencetak gol, lalu mengekspresikan seperti pemain bintang
.
Kalau hujan tak henti, kami akan kesusahan menyaksikan kesayangan kami. Yang biasanya kami akan berlomba mencapai rumah dengan mengotel sepeda. Aku melirik pada berbentuk persegi panjang dengan bandul yang menggantung pada jarum-jarum yang berputar. Jarum pendek sudah berada pada angka 4 dan panjang tepat berada pada angka 12.

Akhirnya tampa pikir panjang, aku dan ke dua sahabatku berlarian menuju tempat penyimpanan sepeda. Lalu kami mengotel, saling salip-menyalip menerobos hujan. Dan terkadang kami mendapatkan cepretan dari mobil yang melaju diatas genangan air.

Sesaimpai di rumah akhirnya kami mengelap sepeda dengan riang, karena ini aku telah berencana untuk meninggalkan rumah. Mengikuti kisah film pendekar yang dengan pakaian yang terbungkus oleh kain sarung.

Dan tak ada lagi air yang turun dari langit. Dan aku mulai bersiap diri untuk pergi ke tempat yang yang terhalang oleh sawah-sawah. Adiku mulai merengek untuk ikut, tiba-tiba keponakanku yang berumur sebaya dengan adiku melakukan hal yang sama.

Dengan sandal yang penuh dengan tanah, aku tetap melangkah. Setelah sampai dimana seorang warga yang memiliki antena seperti tutup panci yang berukuran lebih besar. Kami mencuci kaki di tanah berlubang dengan air yang telah berubah warna menjadi kuning.

Dan saat pintu aku buka, ternyata tak bisa jua. Akhirnya kami saling berdesakan untuk menyaksikan dari jendela. Dan tiba-tiba semua kaca tertutup oleh hordeng. Dan tiba-tiba salah seorang berujar “di tempatnya a biasanya dibuka” dan komentar yang lain “ah pelit” kami melangkah mempercepat langkah.

Suara tangisan mulai terdengar dari adiku. “aa sandal” “udah tengteng aja, cepatan entar keburu habis” jawabku. Dengan menggerutu akhirnya aku membawakan sandal yang tertutup dengan tanah. Tepat dari sana teryata telah berkumpul beberapa orang yang menyaksikan melalui kaca jendela.

Langit telah berubah menguning, matahari perlahan-lahan kian tak nampak suara-suara kodok yang berada seperti hamparan danau, karena tak terlihat galengan tertutup oleh air yang saling saut-menyaut. Di tengah-tengah hamparan air telihat orang yang terbuat dari jerami. Memang terakadang aku, atau yang lain berjalan disana untuk mencari liang belut. Atau membentuk batas-batas yang kami rabut dari potongan pohon padi, lalu membuang air dengan ember (nawu) setelah itu barulah mencari ikan.

Setelah tadi kami melihat langit yang bewarna merah, kuning, jingga. Dan kami menyakini bahwa disana ada bidadari yang sedang mandi. Dan kadang kami menyebut selendang bidadari.

Dan mereka mulai pulang. Dengan perasaan yang tak menentu. Ke esokan harinya hampir semua teman kelas menceritakan apa yang telah mereka tonton dengan gaya saat satria baja hitam berubah. Aku pun menanyakan “sia nyeli be weni” lalu dijawab “beh imahna si Rum” jam istirah telah usai. Kami kembali masuk ke kelas, setelah aku mentraktir temanku yang tadi bercerita tentang monster yang dikalahkan. Dengan senang, hanya mendengarkan dan berharap dengan jalan temanku yang kebetulan bersaudara dengan pemilik, yang akhirnya aku tau bahwa nama tutup panci besar itu yaitu parabola mengijinkan aku masuk.

Tengah-tengah pelajaran sebelum guru masuk, ataupun saat kami sibuk bermain kelereng, beberapa orang yang main satria baja hitam dan salah satunya menjadi monsternya terkadang sampai ada yang menangis. Dan semua kemabali lagi seperti ke awal. Sosok penuntas kejahatan telah begitu melekat dihati kami. Bahkan mereka telah menjadi pahlawan kami. Yang terkadang kami telah melupakan sosok pahlawan kami yang sebenarnya. He…he…..

PAMANAH RASA: Nisfu Sya'ban

Udah ga Jaman

Tak ada suara selain suara jangkrik dan sesekali suara ranting yang bercumbu dengan angin. Penglihatanku dipandu oleh cahaya yang digunakan sebagai penerang tempat tinggal.

Langkahku mulai kupercepat agar aku sampai tujuang, tiba-tiba saat aku melintas melihat seorang yang kira-kira berumur 40 tahun dengan kain sarung yang ia sampaikan dipundaknya. Tangannya asik melenting temabakau yang terbungkus oleh papir. Di depan terdapat gelas yang keluar kepulan asap dari warna hitam.

“Pak” terlontar dari senyumnya “ kopi, de” lalu aku menuangkan dan mengikuti apa yang telah orang itu lakukan. Setelah jadi aku menyaksikan api yang membakar tumpukan kayu dan disampingnya orang-orang sedang asik bermain gitar.

Mataku menoleh, orang itu telah menutupi tubuhnya dengan kain sarung. Badan yang telah agak bongkok mencoba menahan dingin. “udah tidur aja?” sekali lagi yang keluar dari mulutnya hanya senyum. Aku melangkah mendekati untuk mendapatkan rasa hangat dari cahaya tersebut.

Ada yang asik menjaga agar tak padam, aku juga mencari sesuatu apa saja yang kiranya dapat menyelematkan. Tiba-tiba “bakar singkong enak nih” “cari dimana?” “kebonnya pak RT, dia udah ngasih ijin, asala buat jaga malam” suara itu telah mempengaruh semua yang ada. aku menunggu mereka.

Terdengar suara kentungan yang mengeluarkan bunyi sebanyak tong….tong…tong…. tak terasa, aku juga mencoba untuk berdekatan dengan api. Lalu aku menoleh orang itu telah merebahkan badanya. Dengan samar terlihat senyum, dengan tangan memegang lampu senter.

Dan semua itu telah membuk tirai tentang masa, lama aku mengamati tempat yang sekarang kosong, entah apa saja yang telah terjadi di sana. Dimana pengganti orang itu, orang yang selalu tersenyum, dengan lintingan dan kopi, udah membuat tersenyum.

Suara klakson telah membunyarkan masa itu, yang terkadang hanya dengan mengumpul setiap malam agar semua dapat menjaga ketentraman. Sekarang semua telah diserahkan kepada besi-besi yang menjulang tinggi sebagai penutup perkarangan rumah. Dan anak-anak sudah mengenal PS tampa mengenal petak umpet. Dan mereka akan berkata “udah ga jaman”.

Ritual Daerah (Ojung)

Setiap daerah memiliki sesuatu yang sudah begitu melekat dalam keseharian. Hal ini yang terkadang tak pernah bisa dipisahkan dari masyarakat. Munkin, adat tersebut akan menghilang dengan sendirinya, seiringnya berjalannya waktu. Dalam konteks masyarakat yang biasa disebut dengan modern yang akhirnya memisahakan alam ( kono)

Dan dalam hal ini mengisahkan acara adat, yang dalam setiap daerah memiliki penyebutan yang berbeda-beda. Kali acara adat guna memanggil hujan dengan tarian-tarian dan bahkan samapai menui korban hingga berdarah-darah. Semua itu guna mendatangkan air yang turun dari langit. Inilah yang biasanya dinamakan dengan Ojung. Yang dikisahkan dalam kumpulan cerpen karya Edi AH Iyebenu, keluaran Pustaka Sastra. Memang dalam kumpulan tersebut tak hanya menceritakan hal ini saja. Banyak hal yang dikisahkan didalam. Tapi, dalam kumpulan buku tersebut bagi saya inilah yang paling menarik.

Dalam Ojung, ritual tersebut terjadi bila kemarau yang melanda terus-menerus, sampai semua serba kering. Dan tak lagi ada harapan tanda-tanda akan turun hujan. Maka semua itu dilarikan dalam bentuk pertempuran dengan dua orang yang berkulit legam dengan kepala terlilit Bukot (pelindung yang terbuat dari anyaman daun kelapa ) dan juga terdapat Babutto (juri dari pertandingan tersebut) mereka duduk saling membelakingi dan memegang cambuk yang terbuat dari rotan. Dan saat pertarungan tersebut diiringi oleh Okol (gamelan)

Dengan keinginan menceritakan tersebut dalam latar yang telah dipaparkan diatas. Dalam cerpen tersebut. Penulis menceritakan dengan tokoh utama yang hendak membuktikan kepada anaknya yang kembar bahwa ia akan dapat memanggil hujan. dan untuk seterusnya silahkan baca sendiri, karena mungkin akan lebih puas dan bukunya murah ko hanya Rp 5000,00

Yang jelas yang hendak saya ingin sampaikan bahwa Indonesia kaya dengan semua itu. Dan akhirnya bagaimana kita menjaga dan melestarikannya. Dengan jaman yang kian maju. Munkin hal ini dapat dicontoh apa yang terjadi dalam negeri Jepang.

Jangan sampai modern membunuh nilai-nilai yang ada, dan juga kita menolaknya karena modern juga penting. Dan persoalan yang melanda Indonesia ialah persoalan indetitas yang tak pernah berujung pada penyelesaian. Karena semua warna telah masuk ke dalam, meskipun telah dicoba diikat dengan rasa Nasional. Tapi, hanya kata.

Pencuci Otak 2

Setalah tadi mengisahkan bagaiamana proses instal terjadi, yaitu dengan cara mencari sesuatu berupa hiburan. hal ini dilakukan karena terlalu jenuh dengan rutinitas. bukan hanya sebatas itu, akhir dari kehidupan yang menoton juga bisa berujung kepada bunuh diri. hal tersebut tak bisa dinafikan. banyak hal yang telah kita saksikan entah itu dari TV tentang bunuh diri, munkin karena problem jerat.

Hal lain dari pencucian otak berupa doktrin baik berupa agama, maupun hal-hal yang lain. yang bisa menjadi sebuah ideologi. munkin lebih enaknya ambilah sebuah contoh bom bunuh diri. dibutuhkan seorang ahli dalam cuci otak tersebut.

terlepas dari itu semua kehidupan yang dihadapi tak lepas dari hal-hal tersebut, terlalu banyak jerat yang membuat kita akhirnya tampa pernah bisa bersikap kritis. karena munkin semua bersifat pembenaran.

Munafikah jika akhirnya kita menanyakan kebanaran yang sesungguhnya tampa akhirnya kita mendapatkan klaim murtad atau hal-hal yang lain. dalam hal ini terkadang mayoritas terlalu mendominasi kebenaran. baik dalam ranah suku, agama, atau kekuasaan itu sendiri.

Memang jika otak tak pernah mengalami pencucian, manusia seperti apakah kita. lalu bila kita telah menyakini pembenaran tampa pernah bertanya, lantas manusia seperti apa juga kita, hal ini terlalu menyakitkan. memang pembenaran tak hanya datang dari ucapan, bisa juga dari sebuah buku.

Untuk para pencari kebenaran siap-siap terasing....... dalam dunia yang masih menjadi tanda tanya ini, mungkin hal seperti Nabi Ibrahim yang mencari Tuhan dan akhirnya ia terasing.lebih baik salah, setelah mencoba dari pada diam mengikuti semua yang telah ada.

Penyuci Otak

Jum’at (21/08)Udara dingin yang jarang sekali didapat di kota besar, seperti Jakarta. Entah mengapa obrolan sesat terlintas begitu saja. Sebelum magrib aku membonceng kepada teman mengendari Sepeda Motor. Setelah meminjam helem, akhrnya kami berangkat. Dipertengahan jalan akhirnya aku berhenti untuk mengisi perut yang semenjak tadi siang belum terisi.

Sebatang roko sebagai penutup dari istirahat kami. Kami melaju dengan kecepatan 80 KM. kadang ke luar dari benak “jika harus jatuh dan mati, ya udah ah terserah” akan lari kemana?

Dan saat tiba-tiba di jalan keluar dari TOL jagorawi kami dihadang oleh hujan. Atas masalah tersebut akhirnya kami mampir di SPBU. Temanku pergi ke Moshola dan aku ke toilet. Setelah semua selesai akhiryan hujan pun ikut selesai. Kami melanjutkan perjalanan. Kira-kira baru lima meter hujan pun kembali datang. Dengan ketakutan akhirnya kami mengulang seperti tadi, hanya tempat berteduhnya saja yang berbeda. kali ini kami berteduh di depan warung. Sebatang roko kembali kembali kami hisap dengan harapan tak terlalu dingin. Aku menemui pemilik toko untuk meminta plastik, sudah dua warung yang kudatangi untuk pertama hasilnya nol barulah yang kedua.

Barang-barang yang punya nilai rasa takut lebih besar aku masukan ke dalam plastik। Dan hujan kami terobos agar segera sampai tujuan. Udara makin dingin dan penyambutan jalan penuh dengan tikungan. Aku menyaksikan ke sebelah kiri terdapat begitu banyak cahaya lampu yang begitu indah.

Dan kami tiba di mesjid Attaun kira keteka mereka sholat tareweh. Aku duduk menikmati jagung bakar yang seharga Rp 4000,00 dan temanku pergi ke Masjid. Lalu rasa haus dan tampa bepikir panjang aku melangkah dan mampir disalah satu penjual ubi cilembu dan selain itu terdapat minuman panas. Akhirnya aku memesan teh manis. Tak lama berselang akhirnya tiba-tiba dering HP terdengar dan dilanjutkan dengan “dimana lo, gw di dekat motor” akhirnya aku pergi menemuinya dan ternyata ia sedang asik menyantap gorengan. Dan tangan aku juga mulai ikut.

Ahirnya kami berjalan ke tempat penjual ubi tersebut. lalu kami memasan teh manis untuk ke dua kalinya. Udara makin dingin kupulan asap roko tak henti-hentinya. Obrolan ngalur-ngidul saling sambut-menyambut diantara kami.

Akhirnya segelas bandrek susu tersedia di meja kami. Dengan ubi cilembu setengah kilo. Dini hari akhirnya kami memutus untuk kembali ke Jakarta. “Gila dingin baget” aku meminta berhenti untuk sekedar memotret cahaya lampu. Sanyang kamerea tak bisa menangkap semua itu.

Jarang sekali mendapatkan udara segar. Sengaja kami datang ke sini hanya untuk memanjakan pikiran, jengah dengan rutinitas, merenung apa yang telah terjadi. Sudah terasa penat dengan semua yang sedang melanda kehidupan aku, seperti mengistal komputer. Akhirnya otak setelah segar akhirnya menghadipi rutinitas gw cuman ingin tenang.

Hiburan Jalanan tak Kalah

Rabu (22/7), Sekitar jam limaan aku naik DO1 lalu turun di Pasar Jum’at. Tak lama bersalang akhirnya aku naik Metro Mini 72 nugu yang gratisan, datangnya terlalu lama. Saat aku naik kira-kira di Radio Dalam naik seorang cowo membawa gitar bersama dengan cewe.
Beberapa saat kemudian suara gitar mulai terdengar lalu disusul dengan suara cewe. Mereka membawa lagu entah apa judulnya, mungkin karya yang telah mereka ciptakan sendiri.suara merdu yang terkadang menyayat perasaan hatiku. Membawa sebuah kisah perjalanan hati.
Sebagai ungkapan penutup dari mereka mengucapkan salam. Lalu mereka turun dan seperti disadarkan bahwa ternyata tujuan di depan mata. Lalu aku jua turun dan kaki melangkah terus duduk di bawah palang yang bertulis no kendaran beserta tujuan. mengamati dari penjual roko, Koran dan segala macam yang ada.
Pikiran aku mulai kembali kepada pengamen yang tadi, mengapa mereka tak membuat rekaman saja, biar karya mereka lebih laku. Atau munkin terlalu sukar buat mereka. Jika saat aku mendengar lagu mereka tak kalah dengan penyanyi yang sering tampi di layar TV. Lalu mengapa.
Mungkin masalahnya ada pada kesempatan maupun hal-hal yang lain yang masih belum menyentuh kepada elemen yang lebih luas. Ga tau yang jelas mungkin untuk masuk dapur rekaman perlu Rp yang banyak. Yang jelas lagu mereka bisa dikatakan lebih unggul dibandingkan (berani bersaing).
Ini lah mengapa aku menyebutnya dengan hiburan jalanan, sepanjang jalan yang dilalui kendaran di tengah deru mesin ada suara merdu. Dan kita mengasih dengan seiklasnya (500, 1000) kaya udah gede, coba bandingkan dengan penyanyi yang yang telah tenar He..he…. namun sungguh sayang keberadaan mereka terkadang dibilang dengan negative. Lalu apa bedanya dengan mereka. Jika ada yang menolak bahwa hiburan jalanan tak kalah dengan yang terkenal (bandingkan sendiri)

Majalah Murah.

Saat ini, harga kian tak lagi terbendung hasil harga kebutuhan hidup kian makin mahal. Belum lagi keinginan yang menyerupai kebutuhan hidup. Semua tak lagi bisa dipilah-pilah mana kebutuhan dan mana keinginan. Semua telah menjadi satu.
Terlepas dari permasalahan hidup yang kian tak diperjelas karena begitu banyak faktor. Dalam hal aku hanya hendak memberikan informasi, tentunya bagi semua yang seporo kebutuhan terarah kepada buku. Tentunya kita mengetahui bagaiamana dengan harga buku yang lumanyan. Belum lagi hal-hal yang akhirnya membuat garok-garok kepala untuk membeli buku.
Ini semua bermula dari ketika aku bersama dengan teman-teman yang hendak mengunjungi acara yang diadakan oleh tempo bertempatkan di Gelanggang Mahasiswa. Yang bertempat di jalan Kuningan. Akhirnya kami sekitar pukul 09.00 berkumpul di kantin tarbiah. Ngopi dan menghabiskan sebatang roko lalu bergegas pergi.
Setelah sampai gerbag UIN Jakarta akhirny kami naik DO1 lalu turun di pasar jum’at dan melanjutkan naik KOPAJA dengan no tujuan P20 tinggal nanya kondektur Gelanggang Mahsiswa. He….he… sampai deh. Memang lumanya jauh kira-kira satu jam dari Lebak Bulus, mungkin kalau macetnya parah besih lebih.
Sesampai di sana kami mencari informasi tentang keberadaan, setelah tanya sana-sini dan menelopan sesoarang akhirya kami menemukannya, selelah Gelanggar Olah Raga (GOR). Akhirnya kami disambut untuk berdiskusi.
Sekitar jam 12.30 akhirnya acara selesai, setelah itu banyak diantara kami yang menghabiskan berbincang sebelum pergi meninggalkan. Akhirny kami pergi dan berjalan menuju sebelah Pasar Raya kami melihat setumpakan buku-buku yang berjajar. Akhirnya kami memebeli beberapa buku yang lumanya dibandigkan dengan harga-harga yang ada di toko, semisalnya saja majalah tempo di sana hanya Rp5000,00, begitu pula dengan majalah Gatra. Mungkin kelemahannya ialah kurang lengkapnya buku-buku sosial.

ंअक्स(इन)

MakSa(in)
Cak…cak…cakan
Bisa dibaca sesuai dengan ejaannya
Seperti bayem
Bayem……………
Bisa kau sebut kata M dengan mulut terbuka
Seperti kata
Yang diam dan tertutup
Tak usah lagi kau menjadi aku.
Walau siapa aku??????????

Aku masih mencari kata
Sekedar membuat mengerti
Dalam jujur dan dusta
Ungkapan emosi
Ungkapan rasa
Ungkapan

Bedah Buku

Amartya Sen
Bermula dari pertanayaan, akhirnya kata tersebut terdengar lazim dalam ucapan sehari-hari. Namun, dalam hal ini agak sedikit berbeda. seperti halnya saat kata pertama dimulai untuk mengenal. Siapa anda? dalam tahapan selanjut benarkan anda mengenal. Jangan-jangan sebelum anda mengenal siapa dihadapan anda, alalangkah bijak jika menanya siapa saya?

Sebagaimana, jika anda masih menanyakan siapa saya, sebagamana saat shoopy mendapat sebuah surat dan bertuliskan siapa anda? pertanyaan yang mudah, namun begitu sukar untuk menjawabnya. Bahkan munkin membutuhkan berdiam diri selama beberapa hari hanya sekedar menjawab pertanyaan tersebut. karena sampai detik ini saya belum menemukan siapa saya?

Semisal aku telah menentukan sebuah jawaban dan mengatakan tentang identitas, itu jua menjadi sebuah polemic tersendiri dalam batin kita. ini lah yang akhirnya membuat semakin sukar untuk menjawabnya. Tentunya belum lagi hal-hal yang lain yang akhirnya semua menjadi aku. Sebagaimana yang telah di tulisakan dalam sebuah dunia simulacra.

Untuk saat ini hanya ingin mengenalkan sebuah buku tentang Kekerasan dan Ilusi tentang Indetitas karya dari Armartya Sen peraih nobel ekonomi pada tahun 1998, ia juga Prof filsafat terbitan Marjin Kiri dengan tebal buku 238. jika melihat dari judul tersebut membuat bertanya-tanya untuk pemakanaan dari judulnya sendiri.

Saat berbicara sebuah kekerasan telinga sudah sering kali mendengarkannya. dan mungkin bukan lagi sesuatu yang yang langka. Berbeda dengan tulisan selanjutnya dalam judul (Ilusi tentang Indentitas) itu sendiri yang akhirnya mengerutkan kening dan bertanya? Pertanyaan tersebut membuat menjadi menarik untuk membuka halaman berikutnya dan sampai menyelesaikannya.

Dari semua itu lantas apakah yang menjadi persoalan indetitas. Seperti yang telah sedikit disinggung di atas bahwa siapa aku tak ada yang mampu menjawab selain munkin jawaban aku adalah aku. Ataupun aku adalah binatang jalang seperti apa yang diungkapan oleh Chairil Anwar. Bukankah ia telah melakukan pengandaian dan terjebak kata sifat yang seperti binatang.

Persoalan bagaiamana menjawab itu semua kemabali kepada individu. Karena munkin itu lah yang terbaik untuk mengenali dirinya masing-masing. Kembali ke judul buku tersebut, yang perlahan-lahan mulai disinggung dan hendak coba untuk mengenalakan diri kepada pembaca dan semoga memberikan informasi.

Dalam isi buku pada BAB pertama membahas perolan kenjamnya sebuah ilusi, dan hal ini yang membuat begitu menarik karena sepengetahuan bahwa ilusi adalah hal yang mengasikan lantas mengapa di sebut kejam.

Sebagaiaman ilusi yang terbentuk dari realitas yang hadir dalam kehidupan kita. dan selalu setia menemani setiap saat. kerena hal tersebut tak terlepas dari kodrat manusi untuk mempunyai suatu harapan. Lantas dimanakah hal yang menjadi kejamnya ilusi.

Bagi yang tertarik mari bergabung dalam bedah buku amrtya Bagi yang tertarik mari bergabung dalam bedah buku amrtya Sen, apa yang kau ketahui tentang Kekerasan dan Ilusi Indetitas?

Luka Tawa

Ku gali tanah
Tanah ku gali
Taburan bunga di galian
Bunga bertaburan di terpa angin
Terbang ke segala penjuru
Membawa kabar
Tentang penggalian tanah
Tiba-tiba semua menjadi terdengar
Gelegar tawa.

PenyamuN

Di selangkangan aku tak menemukan moralitas
selain jeritan agama
gelagak tawa moralitas
sang jubah
dalam pahitnya kopi
aku menemukan moralitas
dalam awal atau akhir
kisah perempuan terbaring
isak tangis dalam tumpukan Rp

penghancur

Serangan datang bertubi-tubi, tak peduli musuhnya dari gemuk maupun kurang gemuk dan ceking. saat langit mulai gelap, mereka telah siap untuk menyerang. seperti saat semalam, saat aku mulai minum teh tubruk dan sebatang roko 234.

selepas mungkin membiarkan pikiran aku melanyang siapa tau, siapa tau denangan malam. tak ada kata, tak ada apapun selain para penyerang begitu genjar menyerang sehingga lamunan aku terbuyarkan.tanganku mencoba untuk menghancurkan penghancur tersebut.


jam sudah hampir jam 02.00, saat itu akhirnya aku memutuskan untuk meninggalakan dan lari sekedar entah kemana. lalu aku menyaksikan seorang laki-laki tua duduk di atas gerobak. tepat di depan mesjid fatullah pinggir jalan.

sesaat aku berhenti dan mata ini sekelali menatap apa yang sedang ia pikirkan. apakah kau memikirkan tentang kasur empuk, mata sayunya mengikuti arah cahaya lampu mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi. dan saat ia menatap aku, aku mulai menundukan kepala. tak sanggup lagi mencoba membangun opini lagi tentangnya. karena aku mulai merasakan begitu lemah.

ternyata penghancur tak sekedar nyamuk yang menghancurkan mimpi, melainkan begitu banyak penghancur yang hadir untuk menciptakan realitas. dan membuyarkan mimpi-mimpi. benarkah ini merupakan keseimbangan. jika ia adanya apakah mungkin seorang yang kakek yang menghabiskan malam di atas gerobak.

Guru Pembunuh

Bermula dari, saat aku bersama dengan teman hendak ke Lebak Bulus. Dan akhirnya kami menaiki angkot jurusan ciputat Pondok Labu. Aku dan temanku duduk berhadapan di pojok. Disamping aku duduk dua perempuan yang berhadapan jua. Dengan menggunakan seragam sekolah disamping lengen kemaja tertulis SMA Negri I.mereka asik ngobrol.

Tampa sadar kuping ini menangkap pembicaraan tentang apa yang mereka bicarakan. berbincang tentang seputar pengalaman mereka dalam sekolah, tak terlepasa guru yang menjadi peran sentral dalam pendidikan.

Bagaimana guru mengasih motifasi dalam pendidikan dan menyarankan agar mereka lebih menguasi tertuma dalam matematika dan bahasa inggris. Dan guru tersebut memberikan sifat dari anak-anaknaya. Yang dihadapan jua tak mau ketinggalan dalam bercerita tentang wali muridnya.

Yang menceritakanan tentang ke lima anaknya yang sukses menempuh dunia pendidikan dan kuliah Uneversitan Indonesia (UI). Terlihat raut kekaguman meraka terhadap itu semua. Dan penuh pengharapan akan seperti itu. Dengan melupakan siapa dia sendiri. Dengan bakat yang lebih unggul dalam bidang yang lain.

Semua yang mereka ceritakan tentang dunia sains dan tertuma kedokteran yang kian banyak peminat. Dan hal ini yang membuat aku penasaran, mengapa mereka tak menyinggung dunia ilmu yang lain. Seakan dunia sains merupakan sebuah jawaban dari segala persoalan hidup, karena telah mendapatkan jaminan.

Oleh karena itu penekanan pada otak kiri merupakan hal yang utama. Dan kedua kalinya menanyakan bagaiama dengna duani ilmu-ilmu yang lain. Apakah sudah tidak ada tempat baginya. Dengan sendirinya bahwa telah mengikari atas apa yang telah diciptakan oleh Tuhan.

Karena jika melihat apa yang yang telah diciptakan oleh Tuhan kepada umatnya. Terutama manusia. Dan kita pun akhirnya mengaminin apa yang telah diciptakan. Karena tak adala lagi hal yang diciptakan sia-sia, walau hanya seekor lalat.

Dan dalam diri manusia itu sendiri, telah diciptakan otak kanan dan kiri. Mereka berkerja sesuai dengan fungsinya masing-masing. Tinggal bagiamana umat untuk mengunakanya. Sebagaimana yang tertera dalam ucapaNya “ tidak akan merupakan merubah umatnaya selain umatnya sendiri” dan begitu banyak yang mengharuskan kita untuk menggunakan pikiran.

Terlepas dari itu semua, kembali ke awal penulisan ini tentang pembicaraan. bahwa tampa sadar seorang pendidik telah menafikan otak kiri. Yang mungkin merupakan kelibihan dari anak tersebut. Bukankah manusia diciptakan berbeda dengan bakat yang berbeda pula. Kita dilahirkan dengan perbedaan. “diciptakan kamu semua berbeda untuk saling mengenal”kurang begitulah ungkapan yang tertera dalam al-Qura’an.

Memang dalam ranah bangsa yang kita cintai bukan hanya guru yang berperan dalam keseragaman, tetapi pemimpin dalam orde baru. Yang sengaja menciptakan manusia-manusia robot. Dengan cara pembentukan pola pandang terhadapa ilmu-ilmu yang lain. Anak yang kurang mampu dalam hitung-hitungan dianggap kurang dibandingkan dengan imu yang bersifat sains.

Dan jika tersebut telah terjadi apa, dan siapa yang akan kita salahkan. Akhirnya kita telah beramai-ramai membunuh otak kiri. Jika akhirnya manyalahkan sistem yang telah menjadi dogma dan budaya. Yang menjadi sebuah pertanyaan apakah kita mampu untuk merubah itu semua

Memang untuk merubah sesuatu yang sudah menjadi budaya, merupakah hal yang tak mudah. Seperti apa yang diungkapkan oleh teman-teman tongkrongan. Karena tampa ilmu sosial atau seni tidak ada ilmu yang lain. Karena merupakan hal yang menjadi satu.

Dan saya rasa bukan waktunya lagi kita akhirnya harus sama. Karena tampa perbedaaan kita bukanlah apa-apa. Apalagi jika harus mengatakan bahwa ilmu yang sains merupakan hal yang utama yang menciptakan terjadinya diskrimanasi.

Berbicara seperti penyeragaman, jadi terngingat waktu itu saat aku berada di kosan teman. Saat menyaksikan one stop football yang ditanyangkan distasiun swasta (trans TV). Saat itu menyaksikan pembelian pemain sepek bola yang mencapai triliun.

Dan saat itu salah seorang dari kami mengatakan bahwa, kenapa orang-orang barat selalu sukses dalam segala bidang. dan jawaban itu ”cuman satu yaitu konsisten” yang akhirnya menghargai semua ke ilmuan. Atas peristiwa tersebut terdapat penghargaan.

Lantas pertanyaan selanjut apakah Indonesia bisa melakukan seperti itu, selama orang selalu diseragamkan dan terjadi diskrimanasi terhadapa ilmu pengetahuan hal seperti tak bisa terjadi. Mungkin masih banyak alasan yang lainnya.

Untuk itu marilah untuk saat ini mengkompanyekan tak ada lagi matematika lebih segalanya dari segala ilmu yang ada. Karena sepak bola merupakan sebuah ilmu. Dan biarkan anak berkembang menurut kemampuan yang ia miliki. Jangan sia-siakan bakat yang sudah Tuhan ciptakan.

Namun, dibalik itu semua guru masih mendapatkan julukan pahlawan tampa jasa. Mungkin semua hanya sebatas sistem yang menciptakan itu semua. Terutama guru TK, SD. Yang mengajarkan kita bagaiaman mengenal hurus. HIDUP GURU.

Merah Kehidupan

Saat pemaknaan terjadi, dan subjek berperan dalam menginterpetasi atasnya. Munkin dalam hal ini terdapat perbedaan dalam memaknai sesuatu, namun semua telah diikat oleh kesepakatan umum sejak lama telah berdiri. Dan saat subjek menafsirkan berbeda maka akan dianggap “gila”

Sebagaimana kita ketahui begitu banyak warna dalam kehidupan ini, salah satunya warna merah, warna yang mencolok dan ada sebagain orang kurang menyukainya Terlepas dari itu semua, yang hendak diungkapkan adalah tentang warna merah dalam kehidupan. Namun semua tergantung kepada individu.

Memang sekilas atau mungkin tak ada artinya dalam kehidupan yang kita jalankan. Karena sekilas benar adanya tak ada kaitannya, dan bahasa selanjutnya warna merah hanya sebatas warna merah tak lebih maupun kurang.

Saat kita telah sepakat bahwa warna merah dalam bendara Indonesia diartikan dengan kata “berani”. Namun sisi lain mengatakan hal yang berbeda dalam karena kondisi yang membuat hal tersebut berbeda. dan moment tertentu ini yang acap kali untuk dihindarkan karena membuat kita diam hanya berekpresikan mengapa ini terjadi. Sebenar saat itu juga kita memerlukan warna merah sendiri.

Mungkin lebih enaknya seperti ini. saat mengenyam pendidikan dari SD sampai seterusnya. Atau hal-hal lain yang hadir dalam kehidupan. Saat itu kita mencoba sebisa mungkin untuk menghilang noda-noda merah. Karena warna tersebut merupakan aib yang harus ditutupi. Dan aku menyakini semua mengharpakan menghilangkan warna merah tersebut, entah bagaimana caranya. Atau bahkan sampai menghilangkan semuanya sampai tak tersisa, yang ada nama yang makin lama terlarut oleh waktu.

Seperti yang telah diungkapkan diatas tentang warna merah sendiri sebagaimana kita mengetahui bahwa sisi lain warna merah diartikan tentang keberanian. Hal ini yang membuat terpaksa untuk menghadapi apa adanya tentang segala sesuatu yang terjadi. Yang menjadi landasan bangsa ini hendaknya juga menjadi landasan bagi tiap-tiap individu. Bahwa saat merah hadir dalam kehidupan dan saat itu juga kita mencoba menghadapi dengan warna merah jua. Karena warna merah tersebut yang hadir untuk menghapus warna merah. Dan biarkan warna merah bertarung menghapus warna merah.

Sebagaimana yang sedang dialami, saat ini begitu banyak warna merah yang hadir dalam kehidupan. Semua begitu menjengahkan karena sampai tak berdaya untuk menghadapi itu semua. Terjebak dalam kepasrahan untuk melangkah. Sampai-sampai ada yang komentar bahwa berani untuk memulai.

Meskipun semua masih tanda Tanya bagaimana untuk menghapuskan itu semua, apakah cukup keberanian dalam menghadapi semua. Ternyata semua butuh warna merah untuk menghapus warna merah sendiri. Biarkanlah warna merah menjadi pembunuh dari warna merah sendiri. Dan warna bendara yang kita agungkan bukan pajangan sesaat saat 17 agustus, melainkan udah menjadi landasan kuat.

Ternyata warna merah sendiri selalu hadir dalam kehidupan. Dan tak bisa terpisahkan dalam realitas. Karena semakin berusaha untuk menghapus warna merah kita sendiri terperangkap dalam warna merah sendiri. Jujur, untuk menghapus warna merah kita perlu mengawali semuanya dengan warna merah, jadi begitu banyak warna merah yang lain
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. vepiTouring... - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger